Mangupura (Antaranews Bali) - Kementerian Perindustrian mendorong pelaku industri makanan dan minuman di Indonesia mempercepat implementasi revolusi industri 4.0 salah satunya menekankan aspek keberlanjutan yang ramah lingkungan serta memanfaatkan teknologi bersih dan efisien.
     
"Dengan melakukan itu tentu juga akan meningkatkan nilai merek perusahaan. Ini akan menjadi insentif bagi merek mereka sendiri," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto ketika mengunjungi pabrik Coca Cola Amatil Indonesia di Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, Jumat. 
     
Menurut dia, standar keberlanjutan atau "sustainability" merupakan satu dari 10 prioritas nasional yang didorong pemerintah dalam implementasi revolusi industri 4.0.
     
Dia menjelaskan sebagian besar industri salah satunya perusahaan yang bergerak di sektor makan dan minum di Indonesia telah menerapkan revolusi industri tersebut khususnya perusahaan yang getol melakukan kampanye ramah lingkungan.
     
Sedangkan industri lainnya, lanjut dia, secara bertahap akan mengimplementasikan terobosan itu yang tinggal melanjutkan industri 4.0 setelah melalui sistem otomatisasi dalam revolusi industri ketiga. 
     
"Salah satu yang kelihatan di industri makan minum seperti Coca Cola kami bisa melihat efisiensi mendekati 98 persen. Oleh karena itu kami dorong di Bali apalagi ada keberlanjutan yang terkait mengoleksi sampah untuk daur ulang," katanya. 
     
Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi inklusif, korporasi itu juga berpartisipasi mendorong masyarakat peduli lingkungan termasuk kampanye bersih pantai dari sampah khususnya sampah plastik. 
     
Kementerian Perindustrian mencatat sektor makanan dan minuman Indonesia memiliki potensi pertumbuhan yang besar karena didukung oleh sumber daya alam yang berlimpah dan permintaan domestik yang besar. 
     
Pertumbuhan Industri Agro pada triwulan pertama tahun 2018 mencapai 8,34 persen dengan laju pertumbuhan sektor industri makanan dan minuman mencapai 12,7 persen.
     
Sektor makanan dan minuman berkontribusi sebesar 35,39 persen terhadap PDB Industri Non-Migas.         
     
Sedangkan pertumbuhan ekspor periode Januari-Juni tahun 2018 untuk industri makanan tumbuh sebesar 2,51 persen dan untuk industri minuman tumbuh sebesar 8,41 persen. (*)

Video oleh Dewa Wiguna

Pewarta: Dewa Wiguna

Editor : Nyoman Budhiana


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2018