Denpasar (Antaranews Bali) - Dinas Kesehatan Provinsi Bali mengingatkan generasi muda di daerah itu tidak terjerat adiksi atau kecanduan rokok karena satu batangnya saja mengandung sekitar 4.000 senyawa berbahaya.

"Satu-satunya cara agar tidak kecanduan adalah jangan memulai merokok," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr Ketut Suarjaya pada acara Kampanye simpatik Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2018 di Lapangan Puputan Margarana, Denpasar, Minggu.

Suarjaya menambahkan dalam satu batang rokok juga terdapat 400 senyawa penyebab kanker atau karsinogenik dan celakanya lebih dari 50 persen perokok adalah remaja.

Oleh karena itu ia mengajak masyarakat hidup sehat dengan tidak merokok. Pemerintah, menurutnya, sudah terus melakukan langkah mencegah penyebarluasan rokok. Salah satunya dengan Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 10 Tahun 2011 tentang Kawasan Tanpa Rokok.

Sementara itu, Bandoro Gunarso dari BEM Fakultas Kedokteran Universitas Udayana mengatakan diestimasi korban meninggal akibat rokok di seluruh dunia mencapai 8 juta orang.

"Saat ini di Indonesia 190 ribu orang meninggal setiap tahunnya, sementara yang sakit mencapai 380 ribu orang," katanya.

Biaya untuk mengobati pun tak sedikit, mencapai Rp600 triliun per tahun, jauh lebih tinggi dari cukai rokok. Hasil penelitian menunjukkan banyak yang ingin berhenti, tetapi tak tahu caranya.

Oleh karena itu, ia mengapresiasi Kementerian Kesehatan yang sudah membuka "call center" untuk masyarakat yang ingin berhenti merokok.

Gede Sutha Arta Pramana, mahasiswa Universitas Udayana lainnya mendorong para remaja untuk mulai berani bersuara. Hal ini menurutnya, penting karena remajalah yang menjadi target utama untuk menjadi perokok baru.

"Caranya dengan menjadi sponsor kegiatan remaja atau memasang iklan yang masif. Remaja perlu kritis dan menyampaikan pendapatnya," katanya.

Jro Penjor, salah satu masyarakat memberi apresiasi berbagai orasi soal rokok yang disampaikan. Sebagai penggiat meditasi, dia mengatakan merokok adalah merongrong kebutuhan pokok masyarakat. Kebutuhan pokok yang dimaksud adalah kesehatan.

"Prosesnya halus, tidak terasa, lebih banyak terasa nikmatnya bagi para perokok. Selain itu, saya berharap para insan kesehatan bisa mencari manfaat positif dari tembakau agar tidak hanya terasosiasikan dengan rokok," ucapnya. (ed)

Pewarta: Ni Luh Rhismawati

Editor : Edy M Yakub


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2018