Gianyar (Antara Bali) - Objek wisata rumah tradisional di Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali, hingga kini tetap mampu menarik minat kunjungan wisatawan mancanegara, tetapi belum pernah mendapat bantuan biaya perawatan dari pemerintah.

Meski begitu, rumah tradisional berusia ratusan tahun yang dibuka untuk kunjungan wisatawan sejak 1990 itu terlihat bersih dan terasa sejuk oleh banyakanya pepohonan di seputarnya, demikian pemantauan ANTARA, Sabtu.

Menurut salah seorang ahli waris yang mengelola rumah tradisional tersebut, Anak Agung Gede Puja, pihaknya merawat objek wisata unik itu menggunakan biaya sendiri sesuai kemampuan, padahal wisatawan yang datang tidak dipungut tiket masuk.

"Kami merawat dan mengelola rumah tradisional ini secara swadaya, dan sejauh ini mampu mempertahankan keasliannya. Belum ada yang tersentuh corak bangunan moderen," ucapnya.

Dia sangat berharap adanya bantuan biaya perawatan dari Pemerintah Kabupaten Gianyar, sehingga akan lebih mampu melakukan perawatan dan mempertahankan keaslian bangunan yang diwarisi secara turun-termurun dari leluhurnya dalam beberapa generasi itu.

Menurut AA Gede Puja, objek wisata rumah bali berusia ratusan tahun itu setiap harinya dikunjungi puluhan wisatawan yang ingin melihat secara langsung struktur bangunan dan kehidupan tradisional pemilik rumah.

Struktur rumah tradisional itu terdiri dari beberapa bangunan, yakni setelah pelataran parkir terdapat gerbang "angkul-angkul" yang merupakan pintu masuk menuju rumah.

Kemudian terdapat tembok "aling-aling" yang terletak di depan pekarangan rumah berfungsi sebagai penangkal pengaruh buruk dari luar,  termasuk angin kencang.

Di sisi barat terdapat bangunan yang disebut "bale dauh", digunakan untuk tempat peristirahatan bagi anggota keluarga. Kemudian bangunan di sisi utara disebut "bale daja", ditempati oleh anggota keluarga yang usianya paling tua.

Sebelah timur laut terdapat pura keluarga atau "merajan" digunakan untuk tempat bersembahyang atau memuja leluhur dan Tuhan Yang Maha Esa, yang di Bali disebut Ida Sang Hyang Widi Wasa.

Kemudian "bale dangin" terletak di sebelah timur berfungsi sebagai tempat upacara "manusia yadnya" seperti perkawinan, potong gigi dan otonon untuk bayi berusia tiga-enam bulan.

Sementara di sisi selatan terdapat dapur yang masih menggunakan peralatan memasak tradisional seperti tungku dan kayu bakar. Seluruh material bangunan rumah khas Bali ini menggunakan batu, beratapkan ilalang atau alang-alang dan bedeng/bilik bambu.

Thomas, salah seorang pengunjung asal Polandia, mengaku sangat kagum melihat keunikan bangunan rumah tradisional dengan suasana lingkungan hijau oleh banyaknya pepohonan yang tidak dijumpai di negara lain.

Agar tetap menarik minat kunjungan wisatawan, pemilik rumah selalu menjaga kebersihan serta mengganti alang-alang yang sudah tidak layak pakai.

"Semua wisatawan yang berkunjung tidak kami pungut tiket masuk, tetapi yang berkenan boleh menyumbang secara suka rela," kata AA Gede Puja menegaskan.(*)

Pewarta:

Editor : Nyoman Budhiana


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2011