Pemprov tambah 148 Penyuluh Bahasa Bali

Pewarta : Ni Luh Rhismawati

Pemprov tambah 148 Penyuluh Bahasa Bali

Arsip Foto- Anggota penyuluh Bahasa Bali membersihkan lontar di Puri Kauhan Ubud,, Bali. (Antara Bali/Nyoman Budhiana/wdy)

Denpasar (Antaranews Bali) - Pemerintah Provinsi Bali pada 2018 akan menambah sebanyak 148 penyuluh bahasa Bali untuk mengisi kekosongan pada sejumlah desa yang para penyuluhnya telah mengundurkan diri.

"Kami targetkan seleksinya dapat dilakukan pada triwulan pertama 2018 dengan formasi 148 penyuluh, tetapi tidak menutup kemungkinan akan bertambah jika ternyata ada kinerja para penyuluh yang sudah bertugas itu kurang baik," kata Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Bali Tjokorda Istri Agung (TIA) Kusuma Wardhani, di Denpasar, Rabu.

Untuk 568 penyuluh bahasa Bali yang selama ini sudah bertugas di desa-desa selama 1,5 tahun terakhir, lanjut dia, masih akan dilakukan evaluasi untuk perpanjangannya.

"Yang jelas, persetujuan untuk perpanjangannya sudah turun, tetapi kami tentu perlu mencocokkan lagi karena ada informasi kalau ada yang mau mengundurkan diri. Jangan sampai nanti malah menjadi bumerang," ujarnya.

TIA menambahkan, terkait dengan program kerja penyuluh bahasa Bali untuk 2018, pihaknya masih akan duduk bersama dulu dengan Koordinator Penyuluh Bahasa Bali. "Apa yang menjadi catatan kendala mereka, apa yang harus dilakukan ke depan, jangan sampai dana ini sia-sia," ucapnya.

Sementara itu, Koordinator Penyuluh Bahasa Bali Nyoman Suka Ardiyasa tidak memungkiri bahwa tidak semua penyuluh bahasa Bali dapat bekerja sesuai dengan yang diharapkan Pemprov Bali.

"Koordinator tidak bisa berbuat terlalu banyak, khususnya pada para penyuluh yang bertugas jauh-jauh. Ada teman-teman yang tinggal di Karangasem misalnya dan harus bertugas di Buleleng, mungkin dalam seminggu mereka ke desa hanya tiga sampai empat kali karena terkendala jarak. Padahal sesungguhnya penyuluh ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat," ucapnya.

Meskipun penyuluh merupakan pegawai kontrak Pemprov Bali, lanjut Suka, para penyuluh bekerja tentu tidak bisa bekerja hanya berpatokan dari Senin sampai Jumat, karena mereka tidak bisa juga mengelak ketika harus menghadiri acara di desa yang digelar di luar hari kerja.

"Saya sepakat bagi penyuluh yang tidak bisa dibina agar dicarikan yang baru saja. Dengan sekitar 7.000 lulusan pendidikan bahasa Bali, saya rasa masih banyak yang antre," ujarnya sembari berharap agar Pemprov Bali juga bisa mengevaluasi atau memindahkan para penyuluh agar bertugas di daerah terdekat dengan tempat tinggal. (WDY)
Editor: Edy M Yakub
COPYRIGHT © ANTARASUMUT