Denpasar (Antara Bali) - Kota Denpasar mengalami deflasi sebesar 0,01 persen selama bulan Februari lalu, atau 1,02 persen untuk tahun kelender Januari-Februari 2011.

"Sedangkan laju inflasi Februari lalu terhadap Februari 2010 (year on year) sebesar 7.58 persen," kata Kepala Badan Pusat  Statistik Provinsi Bali I Gede Suarsa di Denpasar, Rabu.

Dijelaskan bahwa ibu kota Provinsi Bali itu mengalami deflasi berkat adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh menurunnya indeks pada kelompok barang dan jasa.

Kelompok barang dan jasa yang mengalami penurunan harga meliputi bahan makanan 0,91 persen, kelompok sandang 0,26 persen serta kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,09 persen.

Sementara yang mengalami kenaikan indeks meliputi makanan jadi, rokok dan tembakau 0,47 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,43 persen, kemudian kesehatan 0,69 persen serta kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan 0,03 persen.

Gede Suarsa menjelaskan, komoditas yang mengalami penurunan harga selama Februari 2011, meliputi komoditas bahan makanan antara lain beras, cabe rawit, sawi hijau, daging ayam ras, udang basah, nangka muda, cabe merah dan bawang merah.

Selain itu juga komoditas nonmakanan meliputi emas perhiasan, televisi berwarna. Sementara komoditas yang mengalami kenaikan harga antara lain tarif sewa rumah, bawang putih, bayam, tongkol, pindang, ayam goreng, daging babi, kangkung dan minyak goreng.

Dari 66 kota yang menjadi sasaran survei, 40 kota di antaranya mengalami inflasi dan 26 kota deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Singkawang 1,75 persen dan terendah di Sukabumi 0,01 persen. Sementara deflasi tertinggi terjadi di Sumenep 0,80 persen dan terendah di Denpasar 0,01 persen.(*)


: Nyoman Budhiana

COPYRIGHT © ANTARA 2026