Denpasar (Antara Bali) - Sanggar Buratwangi Denpasar menerbitkan dua judul buku dari 13 buku karya sastra Bali modern yang terbit selama 2010.

Dua novel berbahasa daerah Bali yang terbitkan sanggar itu masing-masing berjudul "Kania" karya Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten dan "Rasti" karya IDK Raka Kusuma, kata Dr I Nyoman Darma Putra, dosen Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Udayana di Denpasar, Rabu.

Ia mengatakan, buku berjudul "Kania" mengisahkan perjuangan gadis yatim-piatu dari kasta Brahmana untuk menjadi pendeta. Kisah itu dilukiskan dengan latar belakang konflik dan tragedi politik 1965.

Tokoh antagonisnya memanipulasi isu politik untuk memperebutkan tanah warisan. Novelet "Kania" ditulis dalam bahasa Bali yang indah, kuat, dan imajinatif, namun sayang sekali struktur naratifnya mengandung celah, karena ada rangkaian cerita yang seharusnya diungkapkan namun dilewatkan begitu saja.

Darma Putra mencontohkan, upacara prosesi penobatan Dayu Latri menjadi pendeta, berubah nama menjadi Kania (judul novel), yang sebetulnya bisa dijadikan sarana membangun konflik antara protagonis dengan antagonis dalam kisah itu.

"Kalau novelet Kania menjadikan tragedi politik 1965 sebagai latar, novelet 'Rasti' karya Raka Kusuma menjadikannya sebagai tema utama. Kisahnya berpusat pada tokoh utama Rasti, seorang siswa sekolah sebuah SMA yang merasa tertekan akibat ejeken dari teman sekolahnya bahwa dia adalah anak seorang Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia di bawah PKI)," ujarnya.

Selain hendak mengungkap sedikit tabir "huru-hara" politik di Bali 1965, novelet itu juga mencoba melukiskan nasib remaja yang tidak berdosa, tetapi harus memikul beban "dosa politik" orang tuanya.

Jika diabstraksikan, menurut Darma Putra, tema tersebut sepertinya mempertanyakan kemutlakan hukum karma. Prinsip hukum karma adalah bahwa seseorang akan menanggung akibat dari perbuatannya sendiri, namun dalam novelet ini, anak menanggung dosa yang tidak pernah mereka perbuat.

Oleh karena itu, temanya tentang remaja atau anak sekolahan dan bahasanya yang sederhana serta mudah dipahami, menjadikan novel tersebut sangat cocok sebagai bacaan remaja. Kelemahan novelet ini terletak pada dialog antartokoh yang kurang imajinatif.

Selain novelet itu, Raka Kusuma juga menerbitkan kumpulan puisi Sang Lelana (Sang Pengembara). Berbeda dengan gaya bahasa novelet Rasti, gaya bahasa kumpulan puisinya sangat indah dan imajinatif.

Selain tema-tema filosofis, sajak-sajak dalam Sang Lelana juga kaya akan simbolisme dalam melancarkan kritik sosial.

Sang Lelana dalam 100 halaman itu berisi sembilan puisi yang relatif panjang-panjang, ditulis dengan bahasa yang sangat liris.

Sajak-sajak dalam kumpulan itu merupakan satu-kesatuan karena berbicara tentang pengembaraan sang subjek sejak meninggalkan rumah sampai kembali ke rumah.

Dalam perjalanannya yang diikuti teman setianya, dia bertemu orang bijak, sastrawan, kemudian melewati pantai yang sunyi, bukit yang indah, hutan yang gundul, kota yang warganya terperangkap konflik sosial dan aksi kekerasan.

Pengembaraan itu menjadi arena bagi sang pengembara untuk meningkatkan kesadaran akan arti kehidupan, kesetiaan, kebijakan, sikap rendah hati, dan spiritualitas, yakni pengembaraan itu identik dengan usaha sang subjek untuk mengenali eksistensinya, tutur Darma Putra.(*)


: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026