Dari Pantai Lovina, Senin dilaporkan, akibat pencemaran tersebut sepanjang pesisir pantai itu tercium bau bahan bakar minyak yang menyengat, hingga membuat wisatawan tidak betah untuk berlama-lama.
Bahkan sejumlah wisatawan terpaksa memilih segera meninggalkan hotel tempatnya menginap dan untuk makan juga banyak yang mencari restoran di tempat lain.
Hal itu di antaranya diakui oleh Nyoman Tirtawan, pemilik Restoran Warung Bambu di kawasan pantai Lovina, Desa Pemaron. "Banyak wisatawan yang segera pergi karena tidak tahan oleh bau minyak solar yang menyengat, hingga membuat mual dan kepala pusing," katanya.
Kalangan pekerja PLTGU Pemaron mengakui telah terjadinya kebocoran minyak pada saluran pipa pengisian solar dari laut yang terletak di dasar perairan. Hal itu terjadi diduga setelah perairan utara Bali tersebut dilanda cuaca buruk.
Menurut sejumlah warga di kawasan pantai itu, bau bahan bakar minyak yang menyengat tersebut tercium dalam dua hari ini, setelah muncul warna "pelangi" pada permukaan air laut.
Belum diperoleh konfirmasi resmi dari pihak PLTGU Pamron terkait dugaan pencemaran minyak solar yang dikeluhkan masyarakat dan kalangan industri pariwisata di sekitar Lovina tersebut.(*)
: Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.