Denpasar (Antara Bali) - Pemerintah Provinsi Bali menyatakan terus berkomitmen untuk menguatkan adat dan budaya melalui berbagai kebijakan karena sektor tersebut berkaitan erat dengan keberlangsungan sektor pariwisata yang menjadi lokomotif perekonomian.

"Harus dipahami, upaya penguatan serta pelestarian adat dan budaya Bali tidak bisa dilakukan hanya dengan wacana belaka. Komitmen kuat, kerja keras, dan upaya nyata sangat diperlukan dalam upaya penguatan adat dan budaya Bali," kata Kepala Biro Humas Setda Provinsi Bali I Dewa Gede Mahendra Putra di Denpasar, Senin.

Ia menambahkan bahwa Pemprov Bali di bawah kepemimpinan Gubernur Bali Made Mangku Pastika telah mengaktualisasikan komitmennya dalam berbagai kebijakan, program, dan upaya nyata.

Dewa Mahendra mengemukakan sejumlah program penguatan adat dan budaya yang telah dilaksanakan dalam kurun 8 tahun terakhir. Program tersebut di antaranya pemberian bantuan bagi desa pakraman (desa adat), tunjangan bendesa (pimpinan) adat, bantuan untuk subak basah, subak abian, dan pembinaan seka (kelompok) kesenian yang tersebar di seluruh kabupaten/kota.

Tidak hanya itu, penataan pura, penataran pemangku (rohaniwan Hindu), pemberian penghargaan bagi seniman dan pemantapan prajuru desa pakraman (pimpinan adat) juga tidak luput dari perhatian Gubernur Bali.

Perhatian Pemprov Bali terhadap penguatan adat dan budaya, antara lain, tercermin dari alokasi dana yang relatif cukup besar. Desa pakraman sebagai benteng budaya Bali mendapat porsi anggaran terbesar dan terus meningkat setiap tahunnya.

Pada tahun 2008 hingga 2009, tiap desa pakraman dibantu Rp50 juta. Selanjutnya, pada tahun 2010 hingga 2012, bantuan ditetapkan sebesar Rp55 juta. Makin memperkuat komitmennya terhadap keberadaan desa pakraman, pada tahun anggaran 2013 Pemprov Bali meningkatkan bantuan desa pakraman hingga menjadi sebesar Rp100 juta.

Mulai 2014 hingga sekarang, tiap desa pakraman memperoleh bantuan sebesar Rp200 juta. Selain bantuan pada lembaganya, kesejahteraan para bendesa juga tak luput dari perhatian Pemprov Bali.

Hal itu tercermin dari alokasi anggaran untuk tunjangan bendesa adat. Pada tahun 2010 dan 2011, jumlahnya sebesar Rp2,6 miliar, sedangkan pada tahun 2012 dan 2013 meningkat menjadi Rp4,4 miliar.

Sejalan dengan itu, subak sebagai lembaga pengairan tradisional dan menjadi bagian penting dalam upaya pelestarian budaya Bali juga mendapat alokasi anggaran yang relatif cukup besar. Pada tahun 2008 s.d. 2012, Pemprov mengucurkan bantuan sebesar Rp20 juta bagi subak basah dan subak abian yang tersebar di seluruh Bali.

Selanjutnya pada tahun 2013 s.d. 2014, bantuan ditingkatkan menjadi Rp30 juta. "Mulai 2015, kami sudah tambah lagi menjadi Rp50 juta," ujar Dewa Mahendra.

Untuk penguatan dan pelestarian budaya, Pemprov Bali menggelontorkan dana hibah bagi kelompok masyarakat. Pada tahun 2013, Pemprov Bali mengucurkan dana sebesar Rp8,14 miliar bagi kelompok masyarakat yang memberi sumbangsih bagi penguatan budaya.

Pada tahun berikutnya, yaitu 2014, 2015, dan 2016, bantuan yang dikucurkan masing-masing sebesar Rp53,18 milyar, Rp18,81 miliar, dan Rp15,37 miliar.

Selain itu, Pemprov Bali juga terus berupaya meningkatkan kualitas pelaksanaan Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, belakangan juga dilaksanakan pementasan seni Bali Mandara Mahalango yang dilanjutkan dengan Gelar Seni Akhir Pekan.

"Program itu dimaksudkan memberi ruang yang lebih luas bagi para seniman untuk mengekspresikan karya-karya mereka. Pada bagian lain, pemprov juga menggandeng Intsitut Seni Indonesia (ISI) Denpasar untuk lebih mengoptimalkan pemanfaatan Taman Budaya," kata Dewa Mahendra.

Menurut Dewa Mahendra, sederet kebijakan dan program yang telah dilaksanakan merupakan wujud nyata komitmen Pemprov Bali terhadap penguatan adat dan budaya.

Hal tersebut diharapkan mampu memberi stimulan bagi desa pakraman dan berbagai komponen terkait dalam melestarikan serta mengembangkan nilai-nilai adat istiadat, seni, dan budaya.

"Berbagai program itu juga bertujuan mendorong pemberdayaan dan peningkatan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan," ujarnya. (WDY)

Pewarta: Pewarta: Ni Luh Rhismawati
: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026