"Bebas visa itu akan memperpendek urusan (administrasi) para operator untuk hadir di BBTF sehingga peluang lebih besar," kata Ketua Panitia BBTF 2016 Ketut Ardana di Denpasar, Selasa.
Menurut dia, kebijakan tersebut akan semakin meringankan langkah para operator wisata potensial itu untuk datang ke Bali dalam eksebisi pariwisata internasional.
"Mereka para biro perjalanan wisata dunia merupakan orang-orang sibuk sehingga `free visa` ini cukup meringankan," ujar Ketua Asosiasi Biro Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Bali itu.
Pelaku pariwisata di Bali, lanjut dia, mendukung penambahan bebas visa kepada para wisatawan dari 169 negara itu sekaligus diharapkan mendongkrak target 20 juta wisatawan mancanegara tahun 2019.
"Satu terobosan bagus dari pemerintah memberikan bebas visa kepada negara-negara pemasok wisatawan," ucap Ardana.
Presiden Joko Widodo sebelumnya telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 21 Tahun 2016 tentang Bebas Visa Kunjungan dan diundangkan pada Maret 2016.
Penerima bebas visa kunjungan, menurut Perpres itu dibebaskan dari kewajiban memiliki visa kunjungan untuk masuk wilayah Indonesia, dan dapat masuk ke wilayah Indonesia melalui Tempat Pemeriksaan Imigrasi tertentu, salah satunya di Bandara Ngurah Rai, Bali.
Melalui BBTF, ia mengharapkan membuka akses bagi biro perjalanan wisata dunia untuk mengenalkan sejumlah destinasi wisata di Indonesia.
Mengingat dalam pertemuan pariwisata tahunan itu tidak hanya mempromosikan potensi wisata Bali melainkan pula daerah lain di Tanah Air.
Tahun ini BBTF mengusung tema daerah Tanah Toraja, eksotika budaya dari tanah Sulawesi.
Nantinya para peserta akan disambut dengan latar belakang budaya Toraja termasuk kuliner khas daerah itu.
"Ini pertama kalinya kami mengangkat tema khusus untuk BBTF dan ke depan akan terus berganti tema dari daerah lain," ucapnya.
BBTF dijadwalkan digelar pada Juni 2016 di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Kabupaten Badung.
(WDY)
Pewarta: Pewarta: Dewa Wiguna: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.