"Kami ingin berbaur dan merasakan hari besar masyarakat Hindu di Bali. Ini pengalaman luar biasa bagi kami yang saat ini tengah berlibur," kata wisatawan asal Inggris, Watson Jeof ditemui di Pura Agung Jagatnatha, Singaraja, Bali, Rabu.
Bersama dengan dua orang rekan lainnya, pria paruh baya itu dengan antusias mengenakan pakaian adat khas Bali lengkap dengan kain sarung, baju adat berwarna putih dan "udeng" atau ikat kepala pria serta selendang datang ke pura.
Tidak lupa, sarana upacara berupa bunga dan dupa juga mereka bawa saat memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa.
"Kami berharap berkah di pura ini. Hal serupa juga pernah kami lakukan saat mengunjungi Thailand tetapi yang ini kami sudah seperti orang Bali," ucapnya.
Kedatangan mereka tidak diantar oleh seorang pemandu wisata melainkan mengikuti salah seorang temannya yang asli dari Singaraja.
Sementara itu persembahyangan Galungan di salah satu pura terbesar di Singaraja tersebut berlangsung khusuk.
Meski Kota Singaraja diguyur hujan deras, namun tidak menyurutkan niat umat Hindu untuk melakukan puja bakti ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Ribuan umat Hindu mendatangi pura yang terletak di jantung Ibu Kota Kabupaten Buleleng itu dengan membawa sesajen berupa buah dan dilengkapi hiasan janur.
Sekretaris I Prajuru (pengurus) Pura Agung Jagatnatha Singaraja, Dewa Nyoman Suardana ditemui di pura setempat mengatakan bahwa untuk mengatur ketertiban dan kelancaran umat bersembahyang bersama, pihak pengurus pura memberlakukan sistem persembahyangan secara estafet bergiliran mengantisipasi membeludaknya umat.
"Kami sudah melakukan sistem itu sejak lama. Jadi halaman utama dibagi dua. Apabila umat di bagian selatan sedang bersembahyang maka umat dibagin utara menunggu. Pintu masuk halaman utama tidak ditutup. Sehingga semua umat bisa bersembahyang tanpa ada antrean di luar," ucapnya.
Umat Hindu Dharma merayakan hari suci Galungan, hari raya terbesar dalam memperingati kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (keburukan) dengan penuh khidmat.
Hari raya itu jatuh setiap 210 hari sekali atau enam bulan sekali. Sepuluh hari kemudian dilanjutkan dengan Hari Raya Kuningan. (WDY)
Pewarta: Pewarta: Dewa Wiguna: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.