"Sebagian besar wisman yang datang ke Bali melalui Bandara Ngurah Rai, hanya 71.026 orang yang melalui pelabuhan laut dengan menumpang kapal pesiar," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, Panusunan Siregar di Denpasar, Senin.
Ia mengatakan, Bali menargetkan kunjungan wisman sebanyak 4 juta selama tahun 2015, sehingga untuk mencapai sasaran itu dalam waktu sebulan (Desember 2015) masih kurang lagi 268.8.5 orang.
"Data kami terlambat sebulan, mudah-mudahan Desember 2015 wisman menikmati liburan peralihan tahun dari 2015 ke 2016 melebihi jumlah kekurangan ini, dengan harapan target yang ditetapkan dapat tercapai," ujar Panasunan Siregar.
Panasunan Siregar menjelaskan, khusus wisman yang datang ke Bali pada bulan November 2015 tercatat 270.935 orang, menurun 20,70 persen dibandingkan dengan bulan yang sama 2014.
Kondisi tersebut juga merosot 26,66 persen dibandingkan dengan bulan Oktober 2015. Kondisi tersebut erat kaitannya dengan aktivitas Gunung Barujari, anak dari Gunung Rinjani di Lombok, Nusa Tenggara Barat yang kembali aktif pada bulan Oktober-November 2015.
Dampak erupsi Gunung Barujari di Lombok, Nusa Tenggara Barat itu tercatat 692 jadwal penerbangan domestik dan internasional di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Bali,terpaksa dibatalkan.
Jumlah penerbangan yang dibatalkan itu terdiri dari 183 jadwal kedatangan dan 189 keberangkatan untuk rute domestik.
Sedangkan untuk rute internasional, selama tiga hari penutupan itu sebanyak 157 jadwal kedatangan dan 163 jadwal keberangkatan pesawat terpaksa dibatalkan.
Panasunan Siregar menjelaskan, dari sepuluh negara terbanyak memasok wisman ke Bali, tujuh negara di antaranya mengalami peningkatan yang signifikan dan tiga negara menunjukkan penurunan.
Tujuh negara yang masyarakatnya semakin banyak berliburan ke Bali meliputi Tiongkok meningkat 19,03 persen, Jepang naik 6,28 persen, Inggris (28,86 persen), Korea Selatan 5,40 persen, Perancis 1,47 persen, Amerika Serikat (18,82 persen) dan Taiwan (8,93 persen).
Tiga negara lainnya yang menunjukkan penurunan terdiri atas Australia yang menempati peringkat teratas merosot 2,05 persen, Malaysia 15,07 persen dan Singapura (19,23 persen), ujar Panasunan Siregar. (WDY)
Pewarta: Pewarta: I Ketut Sutika: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.