Denpasar (Antara Bali) - Pemerintah Kota Denpasar, Bali kembali menggelar kegiatan Denpasar Festival (Denfest) menampilkan keragaman budaya, kekayaan ekspresi dan kreativitas masyarakat setempat berlangsung selama tiga hari, 28-31 Desember 2015.

"Aktivitas tahunan itu kali ini merupakan Denfest VIII tahun 2015 dipusatkan di kawasan Patung Catur Muka Denpasar," kata Sekretaris Denfest VIII Made Saryawan di Denpasar, Rabu.

Ia mengatakan, Denpasar Festival berawal dari sebuah kegiatan tutup tahun yang dicanangkan oleh Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra (Wali kota Denpasar 2008 - 2015) melalui Gajah Mada Town Festival pada tahun 2008.

Acara yang diagendakan sebagai festival tahunan itu kemudian bertranformasi menjadi Denfest sejaktahun 2009.

Dengan demikian Denfest tersebut hingga kini sudah berlangsung untuk yang kedelapan kalinya mengusung tema Demi Denpasar.

Denfest sebagai kegiatan puncak akhir tahun di Denpasar menjadi sebuah strategi pemanggungan dan pengembangan pilar pilar indrustri kreatif di Bali yang telah terbukti memberikan manfaat yang sangat besar bagi masyarakat.

Denfest melahirkan bentuk bentuk karya kreatif dan inovatif yang memiliki kualitas tinggi dengan menjadi modal utama pengembangan ekonomi kreatif di Kota Denpasar.

"Tidaksaja menjadikan kreativitas hidup dan berkembang dengan jiwa baru, tetapi juga memberikan kesejahteraan materi dan spiritual masyarakat," Made Saryawan.

Ia menjelaskan, Denfest yang mengusung tema "Demi Denpasar" merupakan momentum yang tepat bagi segenap insan dan pemangku kepentingan di Denpasar untuk lanjut melangkah menapaki koridor masa depan.

"Demi Denpasar" mencerminkan era penuh sumbangsih untuk kepentingan Denpasar dan peran timbal balik antara masyarakat dan pemerintah yang berkelanjutan demi kecemerlangan dan kesejahteraan Denpasar yang multidimensi, tidak terbatas pada indeks pendapatan domestik regional bruto (PDRB) per kapita.

Namun juga termasuk indeks kebahagiaan dan indeks keberlajutan. Untuk menghilangkan kesan monoton, Denfest setiap tahunnya selalu menampilkan ragam seni budaya, ragam kuliner, ragam tekstil, florikultura, dan keragaman produk handycraft hasil kerajinan seniman Kota Denpasar serta ragam kreatifitas komunitas dan ragam potensi unggulan masyarakat Kota Denpasar.

Selama tiga hari Denfest digelar menampilkan berbagai kegiatan yang bisa dinikmat ioleh masyarakat mulai dari tarian kolosal, peluncuran "game online", peragaan busana, penobatan duta endek, bursa tanaman hias, pameran fotografi kerja sama Photograpfi Community (DPC) hingga berbagai hiburandi mulai dari seni tradisional hingga modern.

Parade Topeng
Salah satu kesenian yang akan ditampilkan dalam kegiatan pesta rakyat itu Parade Topeng, disamping jenis kesenian tradisional Bali lainnya.

Menurut Sekretaris Denfest VIII Made Saryawan, Parade Topeng Taksu di BalikTopeng Tetantrian akan kita tampilkan pada saat pembukaan.

Adalah pawai ikon teatrikal dari inagurasi Denfest yang melanjutkan tradisi dan spirit Tapak Dara Maha Somya sebagai representasi pusaran mandala kreativitas Denpasar yang menyelaraskan keagungan masa lalunya dengan semangat masa sekarang dan cita cita masa depan.

Sebagai sebuah identitas Kota Denpasar yang mengedepankan keseimbangan dan keharmonisan alam makro dan mikro, parade topeng ini adalah wujud penciptaan, persembahan dan penikmatan keindahan sebagai unsur kebahagiaan puncak dan murni.

Denfest kali ini juga menampilkan hal yang berbeda untuk tempat makanan yang dijual oleh para pedagang kuliner.

Made saryawan yang juga kabag Perekonomian Pemkot Denpasar itu menambahkan penataan kuliner dibuat lebih professional dan mudah untuk di bersihkan. Pedagang kami sarankan untuk menggunakan tempat dari bahan kertas, sebagaimana yang dilakukan pada saat Sanur Village Festival, katanya.

Namun penggunaan kertas ini mendapat keluhan dari salah seorang calon pedagang. Mereka mengaku harus mengeluarkan dana yang lebih besar, karena harus membeli kertas. Padahal, pihaknya sudah terbiasa menggunakan ingke (tempat dari ate) dan daun .

"Kenapa harus menggunakan kertas,"? Padahal untuk ingke yang dipadukan dengan daun kan lebih ramah lingkungan, kata salah seorang calon pedagang.

Terhadap keluhan itu Saryawan mengatakan, pihaknya tidak mengharuskan. Namun, berdasarkan kajian yang ada, penggunaan kertas lebih praktis. Misalnya saja, ketika membeli menikmati hidangan di tempat yang jauh dengan pedagang, maka pedagang tidak lagi repot untuk mengambil tempat makanan (ingka) lagi sesudah pembeli selesai makan.

Terkait dengan biaya yang dikeluarkan oleh pedagang, Saryawan mengatakan, pedagang tidak dikenakan biaya untuk tempat dan fasilitas lainnya. Karena semuanya panitia yang telah menyiapkan. Pedagang tidak perlu bayar untuk tempat.

"Jadi seharusnya tidak ada alasan pedagang menaikan harga pada saat Denfest," katanya. Bukan hanya itu yang berbeda pada Denfest kali ini panitia juga akan mengakomodir seni modern dengan menggelar festival music jazz.

"Pada Denfest kali ini, kami akan menggelar festival jazz bekerja sama dengan Balawan, untuk mengakomodir penggemar music jazz di Denpasar," ujar Saryawan. (WDY)

Pewarta: Pewarta: I Ketut Sutika
: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026