Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada di Jakarta, Selasa mengatakan bahwa penurunan harga minyak menjadi salah satu sentimen negatif bagi kurs negara berkembang, termasuk rupiah sehingga mengalami koreksi terhadap dolar AS.
"Penguatan rupiah yang terjadi mulai terbatas seiring kenaikan yang cukup kencang dalam beberapa hari terakhir, apalagi harga minyak dunia juga mulai mengalami penurunan," katanya.
Menurut dia, nilai tukar rupiah menyesuaikan dengan kondisi riil di lapangan meski peluang kenaikan suku bunga bank sentral AS cukup kecil pada tahun ini.
"Namun diharapkan, sentimen dari masih tingginya ekspektasi pelaku pasar akan realisasi kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah maupun Bank Indonesia dapat menjaga nilai tukar domestik," katanya.
Ia menambahkan bahwa pelaku pasar juga sedang menanti data neraca perdagangan periode September 2015 dan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) yang akan dirilis pada pekan ini. Diharapkan juga data neraca perdagangan Indonesia kembali mengalami surplus.
Analis dari PT Platon Niaga Berjangka Lukman Leong menambahkan bahwa masih adanya peluang kenaikan suku bunga AS (Fed fund rate) pada tahun 2015 ini menjadi salah satu faktor yang menopang dolar AS untuk kembali bergerak naik.
"Sejumlah data ekonomi AS seperti data penjualan ritel, produksi industri, dan testimoni sejumlah petinggi bank sentral Amerika Serikat masih diantisipasi pasar. Diharapkan memberikan kejelasan mengenai peluang kenaikan suku bunga," katanya. (WDY)
Pewarta: Pewarta: Zubi MahrofiEditor : I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.