Denpasar (Antara Bali) - Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Bali Anak Agung Gde Alit Sastrawan mengatakan bahwa tanah di Pulau Bali yang bergelombang, berbukit dan bergunung sangat rentan atau rawan longsor.

"Topografi tanah di wilayah Bali seperti itu rawan longsor yang diperkirakan mencapai 3.354,4 hektare," katanya di Denpasar, Jumat.

Ia mengatakan, daerah-daerah rawan longsor terluas terdapat di Kabupaten Karangasem, Bangli dan Buleleng. Secara rinci, luas daerah rawan longsor di Karangasem tercatat 757,17 hektare, Bangli 679,05 hektare dan Buleleng 673,47 hektare.

Sedangkan Kabupaten Gianyar, memiliki daerah rawan longsor seluas 295,83 hektare, Badung 97,73 hektare, Jembrana 215,10 hektare, Klungkung 50,85 hektare, Tabanan 582,30 hektare dan Kota Denpasar 1,89 hektare.

"Dari data itu, terlihat bahwa daerah-daerah rawan longsor tersebar di seluruh kabupaten/kota di Bali. Namun, potensi atau tingkat daerah rawan longsor tertinggi ada di Kabupaten Karangasem, Bangli dan Buleleng," ujar Alit Sastrawan.

Sedangkan potensi terendah berada di Kota Denpasar, hanya 0,01 persen dari total luas wilayahnya yang tercatat 12.778 hektare.

Dikatakan, selain memetakan daerah rawan longsor berdasarkan kabupaten/kota, pihaknya juga memetakan kerawanan itu berdasarkan kecamatan.

"Setidaknya ada 11 kecamatan di Bali menyimpan potensi paling tinggi tertimpa bencana longsor jika dilihat dari karakteristik fisik wilayah," ucap mantan Pengurus KNPI Bali ini.

Dari jumlah kecamatan rawan longsor itu, kata dia, meliputi Kecamatan Kintamani yang memiliki daerah rawan longsor seluas 357,66 ha, Banjar 300,60 ha, Rendang 261,81 ha, Pupuan 168,57 ha, Busungbiu 157,23 ha, dan Kecamatan Kubu 146,79 ha.

Begitu juga di Kecamatan Tembuku 137,16 ha, Penebel 129,60 ha, Baturiti 126,45 ha, Selemadeg 119,34 ha dan Tegallalang 117,54 ha.

"Penetapan ke-11 kecamatan sebagai daerah rawan longsor itu dilihat dari karakteristik wilayahnya yang bergelombang, berbukit dan bergunung," ujarnya.

Untuk mengurangi potensi kerawanan itu menjadi bencana longsor, Alit Sastrawan meminta masyarakat yang bermukim di daerah-daerah rawan longsor untuk menjaga kelestarian lingkungan.

"Kami minta menjaga lingkungan alam dengan tidak melakukan penebangan pohon secara sembarangan lantaran sistem perakaran pepohonan itu sangat bermanfaat untuk menahan air," kata Alit Sastrawan menegaskan.(*)


: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026