"Kegiatan itu menyuguhkan tujuh film dokumenter pilihan yang berasal dari berbagai sumber, mengetengahkan tematik suku Kamoro di Papua, masyarakat dan kultural Bali semasa tahun 1928, Sumba, hingga fenomena Gunung Tambora yang meletus dua abad silam," kata Koordinator program Sinema Bentara, Vanesa Martida di Denpasar, Jumat.
Ia mengatakan, kegiatan tersebut merupakan agenda berkala Sinema Bentara yang kali ini merupakan kerja sama lembaga kebudayaan nirlaba Kompas-Gramedia di Ketewel dengan Udayana Science Club (USC) serta mendapat dukungan dokumentasi film dari Pusat Kajian Papua (Papua Centre) FISIP Universitas Indonesia dan Kompas TV Dewata.
Salah satu film yang diputar, Bali 1928, merupakan kompilasi aneka koleksi CD dan piringan hitam pada masa Bali sekitar tahun 1928, serta arsip-arsip film karya Colin McPhee, Miguel Covarrubias dan Rolf de Mar pada masa tahun 1930-an.
Vanesa Martida menjelaskan, bahwa Bali 1928 terdiri dari lima volume DVD dan CD. Film-film yang diputar dalam agenda kali ini antara lain dokumenter tentang Lotring dan sumber-sumber tradisi gamelan, seni pertunjukan upacara, serta Nyanyian Dalam Dramatari.
Dokumenter hitam putih tersebut merangkum kesenian Bali yang dipentaskan pada masa itu, seperti tari Janger, gender wayang, Semar Pagulingan, gamelan gong kebyar dengan kakawin dan Palawakia.
Film-film tersebut merupakan hasil program repatriasi oleh Dr. Edward Herbs, yang dengan tekun selama bertahun-tahun mengumpulkan aneka koleksi CD dan piringan hitam pada masa Bali sekitar tahun 1928.
Kekayaan koleksi tersebut dipugar kembali kualitasnya oleh Allan Evans dari Arbiter of Cultural Traditions di New York. Adapun sebelumnya, lima volume DVD dan CD ini telah didialogkan dan diluncurkan secara khusus di Bentar Budaya Bali pada 12 Juli 2015 lalu.
"Sebagai bagian dan kelanjutan atas film Bali 1928, juga akan digelar diskusi sinema pada hari Minggu, 27 September 2015, menghadirkan pembicara Marlowe M. Bandem dan Prof. Dr. I Made Bandem. Marlowe M. Bandem merupakaan koordinator proyek repatriasi rekaman-rekaman Bali 1928," tutur Vanesa Martida.
Beranjak dari Bali, publik juga dapat menyaksikan kultur, ritual dan kehidupan masyarakat suku Kamoro, Papua. Dibandingkan dengan suku Asmat dan suku Dani, kebudayaan orang-orang Kamoro yang bermukim di kawasan pedalaman Papua itu barang kali belum banyak dikenal masyarakat luas.
Namun, keberadaan orang Kamoro dapat ditilik dari beberapa catatan ekspedisi, antara lain dari British Ornithological Union (BOU) yang berbasis di Kampung Wakatimi, dekat Kokonau, yang mendokumentasikan gaya hidup suku ini selama 15 bulan antara 1911 hingga 1912.
Ekspedisi ini membuka wawasan dunia akan hadirnya sebuah suku terpencil yang memiliki kekhasan kebudayaannya sendiri.
"Selain melihat bagaimana keseharian masyarakat Kamora, kita juga dapat menyimak tradisi dan kehidupan di Sumba, termasuk sejarah dan dampak letusan mahadahsyat Gunung Tambora yang berada di Bima, yang pada masanya dianggap sebagai bencana lingkungan dan kemanusiaan terbesar," ujar Vanesa Martida.
Melalui dokumentasi tentang masa lalu dan juga kajian-kajian terkini mengenai suku-suku di Indonesia, berikut kekayaan kulturalnya, dapat melihat keindonesiaan secara lebih jernih.
"Keragaman bukan sebagai perbedaan, justru mensyukurinya sebagai warisan nusantara yang patut dirawat seraya merawat keindonesiaa itu sendiri," ungkap Vanesa Martida.
Indonesia sebagai negara kesatuan tidak hadir seketika begitu saja, melainkan melalui proses sejarah yang terbilang panjang. Kemerdekaan yang sudah 70 tahun itu, sesungguhnya bermula dari benih nasionalismenya yang rekah sedari berdirinya Budi Utomo 1908 dan kemudian berlanjut hingga diikrarkannya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.
Di mana api kebangsaan itu kemudian melahirkan pergerakan- pergerakan kemerdekaan di seluruh wilayah nusantara, tutur Vanesa Martida. (WDY)
Pewarta: Pewarta: I Ketut Sutika: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.