Sejak sore hingga malam, ketinggian terjangan banjir di jalan raya yang merupakan bagian lintasan utama Jawa-Bali tersebut mencapai pinggang orang dewasa, sehingga sama sekali tidak dapat dilalui kendaraan bermotor.
Dari lokasi dilaporkan, akibat banjir yang terjadi menyusul hujan deras di daerah sekitar tersebut menimbulkan kemacetan total sampai beberapa kilometer, baik dari arah Gilimanuk maupun Denpasar-Tabanan.
Selain menimbulkan kemacetan total, banjir juga membuat puluhan warga panik dan mengungsi. Dari pendataan sementara, warga yang mengungsi sudah mencapai 22 kepala keluarga.
"Rumah kami tenggelam oleh genangan banjir. Saya dan keluarga bersama warga lainnya mengungsi hanya dengan membawa barang sekenanya. Banjir bandang datang secara tiba-tiba," kata Ny Made, salah seorang korban banjir.
Camat Pekutatan Gusti Ngurah Putra Riyadi saat dikonfirmasi membenarkan Desa Gumbrih terendam banjir bandang cukup besar. Menurutnya, sebanyak 22 KK menjadi korban banjir dan mengungsi.
"Warga yang rumahnya terkena banjir mengungsi ke jalan raya yang posisinya lebih tinggi dan tergolong aman," katanya.
Sementara untuk mengatasi kemacetan, Putra Riyadi mengaku, pihaknya langsung berkoordinasi dengan Kapolsek Pekutatan. Ia minta kepada personel kepolisian untuk mengarahkan kendaraan agar tidak terjebak banjir.
"Tapi banjir yang melintasi jalan raya ini kami perkirakan juga cepat surut karena air dapat mengalir ke sungai di selatan jalan yang posisinya rendah," ujarnya.
Menurutnya, daerah Gumbrih telah menjadi langganan banjir setiap kali hujan lebat turun. Karena itu, petugas baik dari kecamatan maupun polsek langsung meluncur ke lokasi jika dirasa hujan lebat turun dalam jangka waktu lama.
"Di lokasi ada dam sungai, setiap kali hujan lebat kita pantau ketinggian air di dam itu. Jika ketinggian air terus bertambah, langsung dilakukan pengamanan terhadap warga setempat," jelasnya.
Karena sudah sering terjadi banjir, warga sekitar menjadi paham untuk segera mengungsi ketika terjangan air datang.
Selain Desa Gumbrih, banjir juga terjadi di beberapa wilayah di Kabupaten Jembrana seperti Desa Dangin Tukadaya dan Warnasari. Sedangkan di Desa Brambang, Kecamatan Negara tidak terjadi banjir, tapi tanah longsor menyebabkan satu rumah warga tertimbun.
Kepala Desa Berambang Made Arimbawa mengatakan, rumah milik Ketut Sutarma di Dusun Munduk Kendung terkubur tanah longsor. Beruntung, saat kejadian Sutarma maupun anggota keluarga lainnya sedang berada di luar rumah sehingga terhindar dair bencana tersebut.
"Tapi rumahnya hancur, tanah longsor menimpa seluruh bangunan beserta isi di dalamnya," kata Arimbawa.
Selain rumah, longsor ini juga menutup salah satu ruas jalan utama desa tersebut sepanjang 30 meter. Menurut Arimbawa, karena longsoran tanah cukup banyak, pihaknya butuh bantuan alat berat untuk membersihkan jalan tersebut.(*)
: Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.