Denpasar (Antara Bali) - Para tokoh masyarakat Desa Basangbe, Kabupaten Tabanan Bali, dengan bermodalkan keasrian lingkungan, usaha industri kecil dan seni budaya setempat merintis Desa Wisata, karena ingin kecipratan wisatawan.

Desa Basangbe yang bertetangga dengan kawasan wisata Sangeh, objek wisata yang terkenal dengan kera liar tetapi jinak, tidak kalah menariknya bagi masyarakat internasional, kata tokoh masyarakat setempat I Nyoman Astina, ST.MM, Sabtu.

Pemukiman masyarakat Basangbe yang masuk wilayah Kabupaten Badung, kondisinya masih asri karena di kelilingi lahan sawah produktif yang digarap petani, di batas desa ada lembah dan sungai yang tetap menghijau dan dihuni kera-kera liar yang satu rumpun dengan kera Sangeh.

Dengan bermodalkan itu, pihak desa akan membangun jalan-jalan yang dapat dimanfaatkan sebagai jalan lintasan alam yang menelusuri persawahan sambil menyaksikan petani membajak sawah atau bertani lainnya di lingkungan yang teduh.

Astina yang pengusaha itu mengatakan, wisatawan dalam dan luar negeri yang datang bisa diajak menyaksikan aktivitas masyarakat yang memproduksi arak, minuman khas Bali beralkohol kadar rendah yang tumbuh di masyarakat Bangsangbe.

Para pelancong juga bisa diajak untuk menyaksikan aktivitas masyarakat membuat canang, sarana upakara banten bagi umat Hindu setiap hari, disamping aktivitas masyarakat pedesaan yang tentunya menjadi daya tarik tersendiri.

"Mengapa para tokoh masyarakat Basangbe tertarik merintis Desa Wisata", menurut Astina, salah satu cara yang relevan untuk menjaring wisatawan yang berorientasi pada budaya, kemanusiaan, dan peduli pada masalah-masalah lingkungan.

Pengembangan desa wisata secara umum lebih mengedepankan daya tarik berbasis nilai-nilai atau pandangan hidup masyarakat pedesaan. Dengan demikian, pariwisata dan kebudayaan dapat saling mendukung dan di sini ada modal untuk itu, kata dia.

Nyoman Astina menyebutkan, pengembangan desa wisata dapat merangsang pembangunan di perdesaan melalui tergalinya berbagai potensi , disamping sebagai antisipasi kejenuhan terhadap berbagai bentuk wisata konvensional.

Dengan demikian, pengembangan desa wisata merupakan upaya pelestarian lingkungan dan nilai-nilai budaya masyarakat, disamping mampu memberikan lapangan kerja masyarakat dan otomatis pertumbuhan ekonomi kerakyatan.

Sebagai upaya awal merintis desa wisata Basangbe, pihaknya melakukan kegiatan "offroad" dengan mengundang penggemarnya dari seluruh Bali dengan menjajal lintasan sepanjang 25 Km dengan tandajan yang ekstrim.

Kegiatan itu terselenggara setiap akhir pekan yakni Sabtu dan Minggu sebagai sarana mempromosikan daerah ini dan pihak panitia menyediakan hadiah-hadih menarik seperti yang paling berprestasi diberikan hadiah sepeda gunung, kata Astina.

Dalam mengembangkan desa wisata, peran pemerintah setempat sangat diperlukan dalam membangun sarana dan prasana yang paling mendesak adalah jalan menuju desa ini sehingga wisatawan merasakan aman dan nyaman berkunjung ke sini.

Banyak objek wisata yang bisa diciptakan masyarakat pedesaan akan lebih menggairahkan turis mancanegara yang berlibur ke Pulau Dewata karena banyak pilihannya, sehingga lebih lama tinggal pelancong di Bali, harap Nyoman Astina. (WDY)

Pewarta: Pewarta: I Ketut Sutika
: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026