Denpasar (Antara Bali) - Seorang akademisi mengatakan bahwa berdasar sebuah penelitian, infeksi HIV sudah mulai banyak ditemukan pada kaum wanita di Bali sehingga diperlukan pemahaman dan pengetahuan yang memadai terhadap penyakit tersebut.

"Permasalahan HIV dan AIDS kini telah menjadi beban ganda bagi pemerintah, yakni masalah medis sekaligus masalah sosial," ujar pengajar Ilmu Kedokteran Komunitas dan Pencegahan dan Bagian Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (Unud) dr I Nyoman Sutarsa di Denpasar, Kamis.

Menurut dia, kenyataan tersebut terjadi karena adanya diskriminasi dan 'stigmatisasi' kepada mereka yang terinfeksi HIV.  Menurut Sutarsa, permasalahan tersebut kian penting mengingat kini mulai banyak ibu rumah tangga dan anak-anak yang sudah terinfeksi HIV.

Kondisi tersebut akhirnya melahirkan kekhawatiran bahwa HIV sudah ditemukan pada populasi manusia umumnya sehingga harus mendapat perhatian serius semua pihak.

Sutarsa lalu mengutip penelitian yang menunjukkan bahwa di Bali, kecenderungan tersebut sudah mulai tampak.

Penelitian TB-HIV, kata dia, mendapatkan fakta bahwa status HIV pada penderita TB, ditemukan hampir 4 persen atau hampir dua kali lipat, dibandingkan dengan angka yang ditetapkan oleh badan dunia untuk kesehatan atau WHO.

Ibu rumah tangga dan ibu hamil yang terinfeksi HIV juga ditemukan semakin banyak. Karena itu para tenaga kesehatan, khususnya dokter dan bidan harus memiliki pengetahuan cukup dengan masalah tersebut, katanya.

Anak yang dilahirkan oleh ibu yang HIV positif, misalnya, jika ditangani dengan menggunakan program pencegahan dari ibu ke bayi yang memadai, bakal mampu menurunkan risiko infeksi pada bayi yang dilahirkan.

"Infeksi HIV adalah penyakit dengan fase asimtomatik yang cukup lama, mencapai lima hingga 10 tahun," ujar Sutarsa.

Untuk itu, diperlukan upaya pengenalan kasus sejak dini sebagai bentuk antisipasi kalangan praktisi medis.

Para tenaga medis perlu mengetahui bagaimana status HIV seseorang dan apa yang harus dilakukan jika berhadapan dengan orang yang terinfeksi HIV," imbuhnya.

Berkaitan dengan permasalahan itu, Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas dan Pencegahan (IKK IKP) dan Bagian Farmasi Fakultas Kedokteran Unud akan menyelenggarakan Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan (PKB) pada Sabtu, 16 Oktober bertempat di Ruang Teater Lantai IV Fakultas Kedokteran Udayana. (*)


: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026