"Namun penambahan jumlah turis asing tersebut ternyata memberikan kondisi berbeda terhadap tingkat penghunian kamar (TPK) di daerah ini," kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah III (Bali dan Nusa Tenggara), Dewi Setyowati, dalam keterangan persnya di Denpasar, Rabu.
Dalam laporan statistik ekonomi keuangan daerah Provinsi Bali yang dikeluarkan Bank Indonesia Bali itu menyebutkan, gambaran TPK pada triwulan I 2015 mengalami penurunan sebesar 55,99 persen dari sebesar 58,42 persen pada triwulan IV 2014.
Berdasarkan hasil survei, selain akibat maraknya hotel dan pembangunan tempat penginapan yang menimbulkan persaingan, wisatawan mancanegara mulai beralih untuk menyewa villa atau properti dalam jangka panjang.
Vila-vila yang disewa orang asing di kawasan pariwisata Bali itu kemudian dijual kembali kepada konsumennya asal negara yang sama atau dapat digunakan oleh kenalan atau kerabatnya yang berdampak pada penurunan TPK di Provinsi Bali.
Perlambatan juga terlihat pada pertumbuhan "visa on arrival" yang sedikit melambat pada triwulan I 2015 dengan pertumbuhan sebesar 56,99 persen (yoy) dari 74,28 persen (yoy) pada triwulan IV 2014, namun tidak dijelaskan secara nominalnya.
Dewi Setyowati menjelaskan, sejalan dengan perkembangan wisman, maka pembangunan akomodasi makan dan minum juga berkembang dan hal ini bisa terlihat dari perkembangan kredit penyediaan akomodasi makan, dan minum di daerah ini.
Pertumbuhan kredit penyediaan akomodasi, makan, dan minum pada triwulan I-2015 mengalami peningkatan sebesar 16,04 persen (yoy) lebih tinggi dari triwulan IV-2014 yang hanya 13,14 persen (yoy). Kondisi ini seiring dengan masih tingginya potensi industri pariwisata di Bali. (WDY)
Pewarta: Pewarta I Ketut Sutika: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.