Denpasar (Antara Bali) - Lima rumah milik warga di Banjar Saba, Kelurahan Penatih, Denpasar, Bali mengalami kerusakan di bagian atap setelah diterjang angin puting beliung, Kamis.
Kepala Lingkungan Banjar Saba Wayan Mastra mengatakan, dalam peristiwa tersebut tidak ada korban jiwa maupun luka-luka, selain sempat membuat panik warga yang melihat bagian genteng rumahnya yang tiba-tiba "terbang".
Kejadian itu diperkirakan telah menimbulkan kerugian dalam puluhan juta rupiah.
"Selain merusak bagian atap rumah, beberapa atap 'pelinggih' atau bagunan suci untuk tempat bersembahyang juga mengalami kerusakan," ucapnya.
Tidak hanya itu, dua pohon kayu yang berada di pinggir jalanan desa juga ikut tumbang setelah disapu angin puting beliung, katanya saat ditemui di lokasi kejadian.
Menurutnya, kejadian tersebut berlangsung pagi hari sekitar pukul 07.00 Wita. Angin kencang dan memutar muncul secara tiba-tiba, dan berlangsung sekitar lima menit.
"Sebelumnya memang turun hujan, namun sekitar pukul tujuh pagi, hujan agak reda, namun tiba-tiba muncul angin kencang dengan menerbangkan atap rumah milik lima warga," ujarnya.
Dikatakan, lima tempat tinggal yang kini mengalami kerusakan tersebut, masing-masing rumah milik Ny Ayu Riatni, Nyoman Jaya, Nyoman Mahardika, Made Mendra dan Wayan Anan Jaya.
Kelima rumah itu rata-rata rusak di bagian atap, karena saat kejadian bagian genteng atau atap yang terbuat dari asbes berterbangan.
Untuk mengantisipasi kemungkinan yang tidak diinginkan, beberapa pohon besar yang lokasinya berdekatan dengan rumah-rumah penduduk, mendadak ditebangi oleh pihak Dinas Pekerjaan Umum Denpasar.
Beberapa pemilik rumah tampak masih sibuk membenahi bagian atap rumah mereka yang rontok disapu angin. Bahkan dinas PU juga tampak mengerahkan anggotanya untuk melakukan pemotongan terhadap batang pohon yang roboh dan melintang di jalanan.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.