"Pelemahan dolar Amerika Serikat terhadap mata uang lain, di antaranya rupiah, ini seiring sebagian pelaku pasar menilai kemungkinan Federal Reserve bertindak tidak agresif (dovish) untuk menaikkan suku bunganya," kata Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, sikap dovish Federal Reserve itu seiring dengan belum membaiknya data-data ekonomi Amerika Serikat pada kuartal I tahun ini. "The Fed diperkirakan masih mempertimbangkan kebijakan moneternya untuk mencapai jalur aman menaikan suku bunga, cuaca musim dingin masih menjadi salah satu faktor ekonomi AS melambat," katanya.
Selain itu, lanjut dia, harapan baru dari negosiasi dana talangan Yunani juga turut menekan indeks dolar AS di pasar global. PM Yunani menyampaikan komitmennya, tidak akan mengharapkan gagal bayar utang.
Dari dalam negeri, lanjut dia, masih adanya harapan ekonomi Indonesia pada tahun ini akan tumbuh menjadi salah satu penopang mata uang rupiah ke depannya.
Analis PT Platon Niaga
Berjangka, Lukman Leong, menambahkan, mata uang rupiah masih memiliki
kinerja lebih baik dibandingkan mata uang di kawasan Asia. "Bank Indonesia cukup aktif
menjaga fluktuasi rupiah agar rentang kisarannya tidak terlalu tinggi
sehingga meredam kekhawatiran pelaku usaha ekspor-impor di dalam
negeri," katanya. (WDY)
Pewarta: Oleh Zubi MahrofiEditor : I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.