"Kami menerima banyak pesanan dari pelancong yang sedang berliburan di Pulau Dewata," kata Ni Wayan Yoga, pengelola sebuah warung seni di Banjar Penataran, Batuan, Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali, Minggu.
Ia mengelola warung seni yang memajangkan berbagai jenis cinderamata termasuk ukiran papan nama dengan rancangan sedemikian rupa yang unik dan menarik.
"Papan nama ukuran 10 kali 30 sentimeter itu setiap hari rata-rata lima buah laku terjual," ujar Ni Wayan Yoga.
Papan nama "Kala Rangda" itu dijual seharga Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu per unit. Proses pembuatan sesuai pesanan dapat diselesaikan dalam waktu singkat.
Ia menambahkan, papan nama itu dibuat dari bahan baku kayu sono berlatar belakang hitam, penggunaan kayu itu karena memiliki serat yang bagus.
"Kalau dicat latar hitamnya akan kelihatan hidup, dan ukiran 'Kala Rangda' tampak cukup indah," ucap Yoga yang menampung empat perajin yang siap melayani konsumen.
Selain ukiran papan nama "Kala Rangda", kata Yoga, dengan ukuran yang sama papan nama jenis lainnya seperti ikan dolpin, kembang bunga, cecak dan naga dana juga cukup laris.
Namun pesanan jenis matadangan itu lebih banyak dari wisatawan mancanegara, terutama Jepang. Papan nama ukiran dolpin, cecak serta kembang sangat diminati wisatawan Jepang, karena bentuknya lucu.
Matadagangan itu dibuat dari kayu Mahoni, karena jenis kayu itu memiliki latar belakangnya merah kecoklatan. "Jika dicat tampak menjadi coklat bersinar," ujarnya.
Ia menyebutkan banyak wisatawan dalam dan luar negeri memesan papan nama dengan ukuran lebih besar.
"Umumnya jika tidak suka dengan ukuran standar, para konsumen memesan, ukuran satu sepuluh meter kami buat dalam jangka waktu dua hari dengan harga Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta, tergantung ukirannya, ujar Ni Wayan Yoga.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026