Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta, Jumat mengatakan bahwa kembali menegangnya politik di Ukraina menyebabkan investor mencari aset aman seperti logam mulia, sehingga dolar AS mengalami tekanan.
"Faktor geopolitik tersebut juga dapat turut menyusutkan optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi AS," katanya.
Ia menambahkan bahwa secara umum mata uang dolar AS juga cenderung terkikis terhadap sejumlah mata uang utama dunia.
"Sebelumnya, mata uang dolar AS rally menguat terhadap mayoritas mata uang dunia setelah data ekonomi pesanan barang tahan lama (durable goods orders) di AS bulan Maret di atas ekspektasi," paparnya.
Namun demikian, kata Ariston Tjendra, penguatan mata uang Indonesia itu masih terbatas lantaran kebutuhan dolar AS di dalam negeri untuk kalangan pengusaha maupun ekspatriat mengalami peningkatan.
"Menjelang pertengahan tahun, kebutuhan dolar AS meningkat untuk memenuhi repatriasi," kata dia.
Sementara itu kurs tengah Bank Indonesia hari ini tercatat mata uang rupiah menguat menjadi Rp11.601 dibandingkan sebelumnya, Kamis (24/4) di posisi Rp11.608 per dolar AS. (WDY)
Pewarta: Oleh Zubi Mahrofi: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.