"Kegiatan yang digelar Sabtu (29/3) petang itu menampilkan pembicara Sekretaris Jenderal (Penyarikan Agung ) Majelis Utama Desa Pekraman (MUDP) Provinsi Bali, I Ketut Sumarta," kata Putu Aryasthawa yang merancang kegiatan tersebut di Denpasar, Jumat.
Ia mengatakan bersamaan dengan diskusi itu, bekerja sama dengan Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI Bali menayangkan dokumentasi mengenai rangkaian perayaan Nyepi oleh umat Hindu di Pulau Dewata.
Hari Suci Nyepi sesuai yang termuat dalam kitab suci (Tattwa) keagamaan bukan hanya sebagai titik pergantian tahun baru Saka, namun menjadi momentum ruwatan alam semesta yang ditandai oleh serangkaian ritual pembersihan mulai dari "Melasti" (pembersihan benda suci pratime), "Tawur Agung" (ritual pembersihan alam semesta), hingga hingga pelaksanaan "Catur Brata" (empat larangan) penyepian.
Empat pantangan yang wajib dilakukan umat Hindu pada Hari Suci Nyepi, meliputi amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak melakukan kegiatan), amati lelungan (tidak bepergian) dan amati lelanguan (tidak mengumbar hawa nafsu maupun tidak mengadakan hiburan atau bersenang-senang).
Ketut Sumarta yang tampil sebagai pembicara dalam diskusi itu, katanya, akan membahas perihal mendalami kedalaman Nyepi sesuai cara Bali, mulai dari perkembangan bentuk ritual dan pemaknaan hari suci itu dengan mengetengahkan berbagai sisi eksotika dari Bali masa silam.
Selain itu, menyoroti problematik yang menyertai Pulau Bali selama ini, termasuk kemungkinan refleksinya untuk masa depan.
Meskipun berangkat dari esensi makna yang serupa, katanya, nyatanya pelaksanaan Hari Suci Nyepi di Bali berbeda-beda di antara desa pekraman (adat) satu dengan yang lainnya di Pulau Dewata.
Jika masyarakat Bali selatan melaksanakan ritual Melasti (membersihkan benda suci) ke laut atau sumber mata air tiga hari sebelumnya, masyarakat di Bali utara justru melaksanakan ritual yang sama setelah berlangsung Hari Suci Nyepi.
Hal itu, katanya, menunjukkan bahwa ritual-ritual Bali bersifat beragam, yang penerapannya didasarkan pada waktu tradisi (sasih atau bulan, pawukon tujuh harian, maupun perhitungan panca wara atau siklus lima harian) sekaligus pertimbangan kontekstual desa (lokasi), kala (waktu), dan patra (kondisi setempat).
Namun, katanya, belakangan ini Nyepi juga dinilai sebagai salah satu kearifan lokal yang menginspirasi gerakan hemat energi, "World Silent Day", yang mengimbau masyarakat untuk memadamkan listrik selama empat jam, setiap tanggal 21 Maret.
Hal itu, katanya, artinya dari suatu ritual yang bersifat lokal, Nyepi telah dimaknai sebagai bagian dari gerakan peduli lingkungan yang lebih global.
Bahkan, katanya, bisa dikatakan, Nyepi sudah ditransformasikan dari suatu bentuk laku ritual menjadi kesalehan sosial.
"Peserta nantinya dapat ikut urun rembuk dalam diskusi. Misalnya menanyakan bagaimana makna kehadiran Nyepi bagi masyarakat Bali Aga (kuno) atau bagaimana menjaga sakralitas perayaan ini di tengah fenomena pariwisata yang menjadikan Nyepi sebagai salah satu daya tarik wisata" ujar Putu Aryasthawa. (WDY)
Pewarta: Oleh I Ketut Sutika: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.