"Dengan demikian aktivitas ritual yang sakral dan aktivitas pariwisata yang profan di Pulau Dewata tetap berjalan harmonis sampai sekarang," kata Direktur Program Doktor Ilmu Agama Pascasarjana IHDN Denpasar, Senin.
Menurut dia, masyarakat Bali dapat membedakan dua ruang lingkup produksi budaya yang berbeda meskipun saling berdampingan, yakni pertama diarahkan kepada konsumsi dalam dan yang kedua diarahkan kepada konsumsi luar.
Bagi Orang Bali tahu secara jelas batas antara yang sakral dengan yang profan, antara yang dapat dijual dengan apa yang harus dilindungi sekuat tenaga.
"Lebih-lebih bagi masyarakat Kuta yang daerahnya berkembang sebagai pusat pariwisata di Bali, makna religius menjadi modal budaya sebagai dasar pengembangan pariwisata," ujar Sumadi yang pernah melakukan penelitian tentang kegiatan ritual masyarakat Kuta.
Di Desa Adat Kuta menunjukkan bahwa pariwisata dapat memperkuat kayakinan dan identitas religius masyarakat setempat, meskipun beberapa bentuk aktivitas religius itu telah didekonstruksi seirama dinamika pariwisata.
Ketut Sumadi mengemukakan makna religius dalam aktivitas sosial kearifan lokal Bali, juga dapat diidentifikasi sebuah fenomena baru, yakni adanya persamaan persepsi orang Bali, bahwa kegiatan pariwisata dan aktivitas religius sama-sama memiliki tujuan mulia, yakni untuk membangun kesejahteraan masyarakat lahir bathin, yang mereka sebut dengan istilah berputarnya "cakra yadnya".
Di tengah citra sebagai destinasi pariwisata dunia, orang Bali terus membangun sikap religiusitas mengamalkan nilai-nilai kearifan Tri Hita Karana (THK) hubungan harmonis dan serasi sesama manusia, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan Tuhan yang melandasi kehidupan desa adat di Bali.
"Orang Bali tidak tenggelam dalam budaya pariwisata yang menggandeng beragam pesona dan tatanan baru kehidupan yang didominasi ideologi pasar bersifat kapitalistik, namun menerima budaya pariwisata sekaligus merupakan barikade terhadap arus deras pengaruh pariwisata, sehingga pariwisata tidak memarginalkan religiusitas Bali yang sarat nilai etika, estetika dan spiritualitas," ujar Ketut Sumadi. (WDY)
Pewarta: Oleh I Ketut SutikaEditor : I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.