"Seni pertunjukan yang menekankan tata estetika itu mempertahankan eksistensinya dengan kreativitas seni yang inovatif," kata dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar itu, Sabtu.
Kadidat doktor Kajian Budaya Universitas Udayana itu mengemukakan bahwa semangat inovasi yang menyangga kesenian sendratari itu berpengaruh signifikan pada sejumlah seni pertunjukan Bali lainya.
"Bahkan inovasi yang terbangun dalam sendratari beranak pinak menjadi seni pertunjukan inovasi baru seperti tari Manukrawa dan gamelan Semaradana," tutur Kadek Suartaya, seniman serba bisa yang sering memperkuat tim kesenian Bali mengadakan lawatan ke mancanegara.
Seniman kelahiran Sukawati, daerah gudang seni Kabupaten Gianyar itu menilai, masyarakat Bali memberikan apresiasi yang tinggi terhadap inovasi sendratari. Sebab, inovasi tidak akan tumbuh dan berkembang subur jika tidak didukung oleh masyarakat setempat.
Keberadaan dan inovasi yang dikobarkan sendratari membawa penguatan pada seni pertunjukan tradisi Bali yang cenderung termarginalisasi oleh dinamika kehidupan masyarakat modern.
"Pementasan sendratari kolosal adalah genre seni pertunjukan favorit masyarakat Bali di arena PKB. Sendratari Ramayana dan Mahabharata yang digelar di panggung terbuka Ardha Candra Taman Budaya Denpasar, setidaknya hingga 15 tahun penyelenggaraan PKB menjadi suguhan seni pentas yang selalu mengundang penuh sesaknya lebih dari 5.000 penonton," ujar Suartaya.
Bahkan festival gong kebyar lebih dahsyat, karena penampilan seni dalam format kompetisi gamelan dan tari duta masing-masing kabupaten/kota se-Bali selalu mengundang perhatian masyarakat.
"Pementasan yang disajikan secara mabarung (bertanding) dua duta seni tampil secara bergantian dalam satu panggung sarat dengan rivalitas," tutur Suartaya. (WRA)
Pewarta: Oleh I Ketut Sutika: I Gede Wira Suryantala
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.