Denpasar (Antara Bali) - Ribuan orang diperkirakan akan hadir pada perayaan "Shie Jit Thien Sang Sen Muk" atau memperingati hari lahirnya Dewa Perdagangan Antarpulau, di Klenteng Caow Eng Bio Tanjung Benoa, Kabupaten Badung, Bali.

Ketua Panitia Upacara sekaligus pengurus Klenteng, Liong Siu Yang, Rabu mengatakan, perayaan tersebut akan diisi dengan "Ci Suak" atau ruwatan massal yang diikuti oleh ribuan orang digelar pada 6-9 Mei 2010.

"Perayaan yang dipimpin tiga orang Bio Kong atau pendeta akan diikuti oleh umat Konghucu, Tao, dan Budha yang datang dari seluruh Bali dan beberapa Kota di Indonesia, seperti Jakarta dan Surabaya," kata Liong Siu Yang, yang mempunyai nama Bali Nyoman Suyanti Adiartha.

Selain itu, kata dia, juga akan mengundang umat Hindu dan Muslim yang ada di daerah Tanjung Benoa untuk datang sebagai wujud persaudaraan dan kerukunan antarumat beragama.

Ritual "Ci Suak" massal tersebut akan digelar di areal Klenteng, setelah umat melakukan persembahyangan bersama.

"Hingga saat ini seribu orang lebih sudah menyatakan akan ikut "Ci Suak" massal ini. Kegiatan ritual itu akan digelar setiap hari sejak pagi hingga malam hari," ungkap Nyoman Suyanti Adiartha.

Untuk bisa mengikuti ritual buang sial massal tersebut, setiap peserta dikenai biaya Rp100 ribu. Selain umat Konghucu, Tao dan Budha, umat agama lain yang berminat juga dipersilakan ikut ritual "Ci Suak" ini.

"Biaya ini untuk perlengkapan ritual para peserta. Semua dana yang terkumpul akan kami masukkan ke dana Yayasan Klenteng Caow Eng Bio untuk biaya penataan dan perawatan Klenteng," ucapnya.

Perayaan "Shie Jit Thien Sang Sen Muk" di Klenteng Caow Eng Bio Tanjung Benoa juga diwarnai dengan pembuatan patung macan emas raksasa berukuran tinggi tiga meter dan panjang lima meter.

"Patung macan emas raksasa ini bahannya mirip dengan bahan untuk membuat ogoh-ogoh atau boneka raksasa. Selama perayaan, bulu patung macan emas raksasa ini akan dibagi-bagikan kepada umat yang datang. 

Bulu patung macan emas raksasa ini dipercaya sebagai tolak bala dan pembawa rejeki," kata Nyoman Suyanti Adiartha.

Klenteng Caow Eng Bio Tanjung Benoa yang terletak sekitar tiga kilometer kawasan wisata Nusa Dua itu merupakan salah satu Klenteng tertua di Bali. Klenteng ini diperkirakan sudah ada sejak abad ke-16 Masehi.

Klenteng ini dibangun oleh leluhur warga keturunan China yang ada di Tanjung Benoa, yang datang ke Pulau Dewata dari daratan Tiongkok sebagai pedagang.(*)



Editor : Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026