"Kami memilih batok kelapa karena bahan bakunya mudah diperoleh disini, dan harganya relatif murah. Kami harap, produksi kerajinan ini bisa dilanjutkan karena memiliki nilai ekonomi yang lumayan," kata Koordinator KKN Pembelajaran Pengabdian Masyarakat UGM, Rizky Dwi Kusumo, di Negara, Kamis.
Selain memberikan pelatihan, para mahasiswa ini juga menyumbang satu unit mesin pengolah batok kelapa, untuk produksi kerajinan seperti tas besar maupun kecil.
Rizky mengaku, untuk memberikan pelatihan ini, pihaknya mendatangkan ahli kerajinan serupa dari Bantul, Yogyakarta, sekaligus memberikan gambaran pemasaran.(GBI)
Pewarta: Oleh Gembong Ismadi: Gembong Ismadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.