Sebagian besar museum milik perorangan itu terdapat di perkampungan seniman Ubud, Kabupaten Gianyar, Kota Denpasar dan Kabupaten Klungkung.
Museum swasta pertama di Indonesia itu dirintis oleh Pande Wayan Suteja Neka (73) pada era tahun 1970-an, namun baru diresmikan pada 7 Juli 1982 atau 31 tahun yang silam.
Museum dengan bangunan berarsitektur tradisional Bali seluas 2.850 meter persegi di atas lahan 9.150 meter persegi di tebing Sungai Campuhan, Perkampungan seniman Ubud itu menjadi pelapor yang kini di Bali tercatat sekitar 30 museum.
Museum bagi umat Hindu, khususnya di Bali tak bisa lepas dari kehidupan sosial religius. Sebab apa yang tersimpan (koleksi) museum merupakan bagian dari kehidupan keberagamaan yang diwariskan oleh leluhur, tutur dosen Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar Dr I Ketut Sumadi.
Pria kelahiran Gianyar 48 tahun yang silam menjelaskan, museum bukan sekadar tempat memajang benda-benda warisan leluhur yang bersifat magis religius, namun juga cerminan kepercayaan (seradha dan bhakti) dalam melaksanakan pengorbanan secara ikhlas (yadnya) untuk memuliakan leluhur.
Konsep tentang perjalanan waktu masa lalu, masa kini, dan masa depan yang disebut "atita, wartamana, nagata" yakni setiap perjalanan tentu memiliki sesuatu yang istimewa dan perlu menjadi penanda zaman bagi setiap generasi.
Oleh karena itu, eksistensi museum sebagai wahana penyimpan berbagai benda istimewa penanda zaman itu, memiliki arti penting. Dengan mengunjungi museum sekaligus melakukan kontemplasi (mulat sarira) mengenang masa lalu, melihat realitas masa kini, kemudian merancang masa depan kehidupan sosial religius yang lebih baik.
Museum di Bali dalam perspektif agama Hindu merupakan implementasi ajaran "atita, wartamana, nagata", dan sekaligus melaksanakan yadnya memuliakan leluhur. Sebab konsep yadnya kepada leluhur, tidak hanya diwujudkan dalam bentuk upacara persembahan sesaji.
Selain itu juga dalam wujud perilaku merawat dan memuliakan benda-benda pusaka warisan leluhur di museum. Keberadaan museum dan agama Hindu di Bali saling melengkapi. Ajaran agama memberikan jiwa terhadap museum, baik menyangkut arsitektur bangunan fisik maupun benda-benda yang dipajang.
Sebaliknya, museum juga bisa menjadi wahana mempelajari agama, karena benda-benda museum berkaitan erat dengan perkembangan praktik keberagamaan Hindu di Bali, sehingga merupakan suatu kewajiban untuk mengetahui keberadaan museum.
Kunjungi Museum
Ketut Sumadi mengajak masyarakat Bali seperti umumnya wisatawan mancanegara memanfaatkan waktu luang atau liburan untuk berkunjung ke museum bersama anak-anak dan keluarga.
Upaya itu sekaligus menanamkan pemahaman terhadap ajaran agama, mencintai warisan budaya bangsa, dan meningkatkan rasa bhakti kepada leluhur. Berbagi kasih sayang Museum yang ada sekarang, mulai dari museum subak, museum seni lukis, maupun museum yang menyimpan benda-benda purbakala.
Semua itu menjadi cermin sejauh mana penghormatan dan keyakinan kepada para leluhur, termasuk keyakinan kepada Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam museum subak yang ada di Tabanan misalnya masyarakat dapat melihat bagaimana leluhurnya mengolah alam dengan sistem bercocok tanam menggunakan peralatan yang ramah lingkungan dan mengedepankan sistem pertanian berkelanjutan.
Petani menata petak tanah dengan sentuhan rasa estetik, sehingga hamparan tanah pertanian yang menjadi pemandangan yang indah. Mereka tentu tak pernah memikirkan, ternyata hasil jerih payahnya yang berupa keindahan alam kini menjadi daya tarik wisata, bisa meningkatkan kemakmuran anak cucunya.
Demikian pula organisasi Subak, leluhur orang Bali belajar berbagi rasa kasih sayang dengan cara pembagian air yang adil. Mereka membuat temuku (semacam bendungan mini) untuk mengatur besar kecilnya debit air yang diterima sesuai luas sawah masing-masing.
Petani tak mau mengambil lebih dari apa yang mereka perlukan. Demikian pula saat membajak sawah dengan menggunakan tenaga sapi atau kerbau, mereka belajar berperilaku seiring sejalan dengan makhluk hidup lain, terutama binatang ternak yang bisa membantu kehidupannya.
Ternak-ternak akhirnya mereka pelihara dan rawat dengan penuh kasih syang, baik secara fisik maupun spiritual lewat upacara Tumpek Kandang, yakni ritual khusus untuk menghormati binatang piaraan.
Nilai-nilai kebersamaan, kasih sayang dan keadilan itulah yang bisa dipetik saat mengunjungi museum subak. Nilai kebersamaan dan berbagi kasih sayang itulah kini terasa hilang di kalangan petani ketika pola bercocok tanam digantikan dengan menggunakan teknologi canggih, memanfaatkan zat-zat kimia serta eksploitasi alam berlebihan.
Demikian pula air pertanian telah diambil oleh perusahaan air minum, sehingga saat musim kemarau petani hanya bisa gigit jari menyaksikan lahan pertanian mereka merana dan gagal panen.
Bahkan yang paling mengusik hati nurani, setiap tahun terjadi alih fungsi lahan pertanian lebih dari 1.000 hektare menjadi kawasan perumahan atau kawasan pariwisata dengan bangunan yang tidak bersahabat dengan alam dan lingkungan.
Fungsi dan magis
Ketut Sumadi mengingatkan, masyarakat yang berkunjung ke Museum yang bertebaran di sejumlah tempat di Bali itu selain dapat menikmati estetika bentuk, sekaligus memahami fungsi dan makna benda-benda yang bersifat magis religius.
Patung dewa-dewi atau perlengkapan upakara misalnya dapat memberi tuntunan pemahaman tentang peningkatan sraddha (keyakinan) dan bhakti (sujud) kepada kemahakuasaan Sang Hyang Widhi atas kehidupan manusia dan semua mahluk di alam semesta.
Patung Dewi Sri di museum subak misalnya merupakan manifestasi Sang Hyang Widhi sebagai dewi kemakmuran yang dipuja oleh umat Hindu, terlebih yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian.
Demikian pula patung dan lukisan Garuda Wisnu misalnya, di mana Garuda merupakan perlambang seorang abdi yang setia kepada junjungannya, Dewa Wisnu, yang merupakan manifestasi Sang Hyang Widhi sebagai pemelihara semua makhluk dan alam semesta.
Nilai satya (kesetiaan), kejujuran, dan pengabdian yang tulus sangat sulit diamalkan dewasa ini di tengah arus deras globalisasi yang menawarkan komodifikasi serta hedonisme. Karena itu, seseorang perlu mengunjungi museum untuk menemukan kembali jati diri, sehingga tidak mudah goyah diterpa dinamika perkembangan global yang melesat kencang.
Masalahnya hingga sekarang masyarakat Bali belum terbiasa berkunjung ke museum. Mereka belum sepenuhnya dapat memahami betapa pentingnya arti museum dalam melakoni kehidupan sehari-hari.
Museum dianggap hanya sebagai objek wisata, sehingga hanya para wisatawan yang pantas mengunjunginya. Kalangan mahasiswa juga masih jarang berkunjung ke museum, padahal di museum mereka bisa belajar, mengasah ilmu yang didapat di ruang kuliah dengan realitas, baik yang berkaitan dengan masa lalu, masa kini, dan prospek masa depan.
Museum bukan hanya untuk wisatawan, sehingga ke depan perlu mewajibkan mahasiswa berkunjung ke museum melalui kuliah kerja lapangan (KKL). Demikian pula dalam kuliah kerja nyata (KKN) ke desa-desa, mahasiswa diharapkan dapat mensosialisasikan pentingnya peranan museum bagi umat Hindu.
Dengan demikian, umat akan sadar untuk ikut bersama-sama menjaga dan melestarikan pusaka budaya warisan leluhur. Setidaknya mereka tidak mudah tergiur untuk menjual pusaka budaya peninggalan leluhurnya, kata Ketut Sumadi berharap. (WRA)
Pewarta: Oleh I Ketut Sutika: I Gede Wira Suryantala
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.