Denpasar (Antara Bali) - Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Udayana Prof Dr I Wayan Windia, MS menilai, organisasi pengairan tradisional bidang pertanian (subak) di Bali mampu mengadopsi teknologi dalam bidang pertanian.

"Perkembangan teknologi pertanian sanggup diterapkan petani pada lingkungan subak dalam mewujudkan ketahanan pangan," kata Prof Windia, dosen seninor Fakultas Pertanian Unud di Denpasar, Selasa.

Ia mengatakan, subak yang diterapkan petani Bali secara turun temurun itu menjadi salah satu kearifan lokal memiliki peran sangat besar dalam menyukseskan pembangunan bidang pertanian.

Oleh sebab itu subak menjadi modal sosial yang kuat, dapat dijadikan sebuah model pengembangan program ketahanan pangan, baik di Bali maupun tingkat nasional.

Windia menambahkan, model pengembangan ketahanan pangan tersebut menekankan pada kearifan lokal, sekaligus peluang besar mengembangkan sektor pertanian, peternakan dan perikanan secara maksimal.

Untuk itum Program Studi Agrobisnis Fakultas Pertanian Unud telah melakukan penelitian mengenai model pengembangan ketahanan pangan berbasis sistem subak di Bali.

Penelitian melibatkan dosen dan mahasiswa itu, dimaksudkan untuk mengetahui indek ketahanan pangan di suatu daerah.

Prof Windia yang memimpin penelitian tersebut menjelaskan, kegiatan penelitian dilakukan di sejumlah subak yang berbeda karakter kegiatannya, yakni subak yang sudah memiliki kegiatan sosial ekonomi bercirikan dengan berdirinya koperasi tani.

Penelitian tersebut dilakukan di subak Lodtunduh, Ubud, Kabupaten Gianyar, sementara subak lainnya yang belum memiliki kegiatan sosial ekonomi yang belum memiliki koperasi tani, yakni di subak Angantaka, kota Denpasar.

Kedua subak yang berbeda ciri itu akan memiliki ketahanan pangan yang berbeda, dan salah satu di antaranya dapat dimanfaatkan sebagai model pengembangan ketahanan pangan berbasis kearifan lokal, tutur Prof Windia.(*)


: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026