Denpasar (ANTARA) - Gubernur Bali Wayan Koster meminta masyarakat mulai mengalihkan konsumsi nasi ke alternatif pangan seperti jagung dan singkong.
“Sekarang mulai programkan secara progresif pangan pendamping beras supaya mulai bertransformasi, jangan tiap hari makan nasi atau beras, mulai jagung atau singkong, kurangi ketergantungan makan beras,” ucap Koster di Denpasar, Kamis.
Arahan untuk masyarakat ini disampaikan kepada Kepala Distan Pangan Bali agar segera menjalankan program pangan pendamping beras di Pulau Dewata.
Koster mengaku mendapat ide itu dari Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri yang mencermati ada ancaman penurunan produksi beras di Indonesia.
“Kita mengalami ancaman penurunan produksi beras termasuk di Bali, sekarang surplus kita turun terus dari semula lebih dari 100 ribu ton turun menjadi 80 ribu ton, kalau tidak dikendalikan turun terus dia,” ujarnya.
Untuk itu, Pemprov Bali menilai agar tetap daulat pangan terutama beras harus dilakukan dengan meningkatkan volume produksi beras sembari mengkonsumsi pangan yang juga memiliki sumber karbohidrat lain.
Gubernur Koster mengingatkan program penting di pertanian saat ini selain mengembangkan pertanian organik dengan target 100 persen organik pada tahun 2027, juga memastikan Bali daulat pangan.
Komoditas beras sendiri merupakan salah satu yang prioritas untuk dipastikan ketersediaannya, selain itu juga jagung, keladi, singkong, bawang merah, bawang putih, sayur, dan buah-buahan.
“Kita kebijakannya daulat pangan, paling tidak kebutuhan warga Bali ini bisa dipenuhi dengan hasil pertanian yang ada di Bali, berasnya, jagungnya, singkongnya, keladinya, dipenuhi dari hasil pertanian di Bali, hitung itu,” kata Gubernur Koster.
Saat ini selain beras yang dijaga ketersediaannya, Pemprov Bali juga mendorong bawang putih, sebab hingga saat ini Bali tidak dapat memenuhi kebutuhan bawang putih.
“Sekarang programkan bawang putih, akan dapat dukungan kementerian 2.500 ha tahun ini, tentukan lokasinya, kalau bisa ditanam semua dan nanti harganya bisa murah kepada masyarakat maka semua akan beli bawang putih Bali karena sekarang masih pakai yang impor China,” ujarnya.
Pewarta: Ni Putu Putri MuliantariEditor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © ANTARA 2026