Denpasar (Antara Bali) - "Jes" kolaborasi jegog, musik tradisional khas Jembrana, kabupaten di ujung barat Bali, dengan semar pagulingan, salah satu gamelan kuno, mampu membangkitkan pengembangan seni dan budaya di Pulau Dewata.

"Musik progresif yang disebut 'Jes Gamelan Fusion' itu melibatkan puluhan anak muda yang terhimpun dalam wadah Panggak Men Mersi Puri Kesiman Denpasar," kata pelindung sekaligus  penggagas wadah tersebut Anak Agung Ngurah Gede Kusuma Wardana di Denpasar, Rabu.

Ia mengatakan, kolaborasi dua jenis musik menjadi satu-kesatuan yang saling mengisi itu merupakan  sebuah konsep yang mengandung filosofi tiga ruang.

Tiga ruang yang dimaksud, pengembangan dan penggalian kesenian zaman dulu, sekarang maupun di masa mendatang, dengan menekankan sebuah tempat untuk berinteraksi dan mejalin komunikasi untuk mengapresiasi persoalan-persoalan kebudayaan.

Dari upaya tersebut diharapkan mampu melahirkan gagasan yang cemerlang dalam pengembangan dan pelestarian seni budaya Bali yang semakin kokoh ke depan.

Kusuma Wardana, tokoh Puri Kesiman Denpasar dalam memadukan jegog dan semar pagulingan (Jes), merangkul I Nyoman Windha SS.Kar, MA, dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

Windha, alumnus Universitas Mills Collage Oakland, California (ACC), Amerika Serikat itu mencetak puluhan anak muda untuk terampil memainkan Jes Gamelan Fusion untuk mengiringi gerak tari.

Media pokok jegog dan semar pagulingan kemudian dikolaborasikan lagi dengan beberapa alat musik seperti djambe, konga dan biola, mampu menampilkan sebuah pementasan yang bermutu.

Musik progresif "Jes Gamelan Fusion" tersebut dipentaskan dalam rangkaian memeriahkan Hari Pers Nasional (HPN) 2010 tingkat Provinsi Bali, yang puncak acaranya direncanakan dilaksanakan di Mangu Praja Mandala, Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung di Mangupura, Sempidi, 3 April mendatang.(*)


: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026