Tabanan (Antara Bali) - Saat Hari Raya Nyepi, Selasa, petani di Bali, seperti di daerah Marga, Kabupaten Tabanan, harus pandai-pandai "mencuri" waktu untuk tetap dapat mengurus aneka ternak peliharaan meliputi sapi, babi, ayam dan lainnya, agar tidak sampai kelaparan dan menimbulkan kegaduhan.
Wartawan ANTARA yang melaksanakan "Catur Brata Penyepian" di kampung halaman daerah Marga, Kabupaten Tabanan, melalui telepon melaporkan, petani umumnya telah menyiapkan stok pakan untuk aneka ternak itu sejak sehari sebelumnya.
Dengan demikian dalam suasana mematuhi empat larangan meliputi tidak bekerja, bepergian, bersenang-senang dan tidak menyalakan api/lampu penerang selama 24 jam bertepatan Tahun Baru Saka 1932, tinggal memberikan pakan yang sudah tersedia dalam jumlah sesuai kebutuhan.
Pakan untuk aneka ternak itu diberikan pada tempatnya sebelum pukul 06.00 Wita, saat umat Hindu mulai menjalankan "Catur Brata Penyepian", sehingga tidak sampai mengganggu ritual tersebut.
I Wayan Karya (45) yang akrab disapa Pan Angga maupun I Wayan Pasek Yatna (35) yang disapa Pan En, petani warga Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri, 27 km barat laut Denpasar, mengaku harus pergi ke kandang sapi di sawah yang berjarak sekitar 1,5 kilometer itu pada pukul 04.30 Wita untuk memberi hijauan pakan ternak untuk sapi dan babi piaraannya.
Rumput dalam tiga keranjang sudah disiapkan sehari sebelumnya, sehingga saat Hari Raya Nyepi tinggal memberikannya begitu saja ke kandang, tanpa harus susah payah mencari ke sawah atau ladang.
Pan Angga, ayah dua orang putra itu, selain memberikan pakan untuk tiga sapinya juga harus memberikan makanan pada babi dan ayam piaraannya.
Demikian pula Pan Santi (52) warga lainnya, juga melakukan hal yang sama, sehingga ternak piaraan tetap mendapat pasokan pakan, meskipun pemiliknya sedang melaksanakan ibadah "Tapa Brata" itu.
Namun semua pekerjaan itu sudah harus selesai dilakoni sebelum matahari terbit, karena setelah pukul 06.00 Wita mereka wajib menjalankan "Catur Brata Penyepian" yang diistilahkan sebagai Amagi Geni, Amati Karya, Amati Lelungan dan Amati Lelangunan (bersenang-senang).
Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri, yang berpenduduk 297 kepala keluarga atau sekitar 1.305 jiwa, sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani dengan mengolah lahan yang tidak begitu luas.
Untuk menyiasati lahan garapan yang rata-rata hanya 20 are atau 2.000 meter persegi per keluarga, mereka harus memelihara ternak sapi, babi, ayam dan jenis ternak lainnya yang mampu memberikan pendapatan tambahan.
Lahan pertanian basah itu sebagian juga ditanami sayur-mayur, dibuat menjadi kolam ikan air tawar yang sanggup memberikan nilai ekonomis lebih besar dibanding menanam padi.
Banjar Ole, Marga, yang berjarak 27 km arah barat laut Denpasar dan dihubungkan jalan beraspal, dalam kehidupan sehari-hari seakan menggapai kedamaian dan keheningan khas pedesaan, lengang dari kebisingan mesin kendaraan.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.