Para seniman mengenakan pakaian, pita ikat atau lengan mengibarkan bendera setengah tiang, semuanya serba hitam, menggelar doa bersama di halaman museum tersebut.
Usai mengibarkan bendera, mereka duduk bersila menggelar doa keprihatinan. Kemudian mereka berjalan satu per satu mengiringi bendera hitam yang dibawa seorang seniman.
Sampai di pintu gerbang museum sisi selatan, bendera hitam dengan tiang bambu tersebut diikatkan di pagar menggunakan pita yang dikenakan para seniman.
Ketua Komunitas Seniman Borobudur Indonesia (KSBI), Umar Chusaeni mengatakan doa keprihatinan dilakukan para seniman di sekitar keberadaan Museum Widayat.
"Kami sangat prihatin, kami tidak ingin ada konflik atau apapun di Museum Widayat yang dapat menghancurkan museum ini," katanya seraya mengingatkan, keberadaan museum tersebut sangat berarti bagi seniman muda sebagai salah satu tempat inspirasi untuk berkarya. (*/T007)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.