Kuta (Antara Bali) - Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Indonesia Pengprov Bali AA Gde Agung menyatakan bahwa seni bela diri pencak silat merupakan warisan budaya nenek moyang bangsa Indonesia, sehingga menjadi kewajiban masyarakat untuk melestarikannya.
"Kita wajib melestarikan dan mewariskan kepada generasi penerus, sehingga keberadaan pencak silat tidak pernah lekang di tengah derasnya arus modernisasi zaman," kata Gde Agung di Kuta, Bali, Minggu.
Pada peringatan kari jadi ke-55 Persatuan Seni Pencak Silat (PSPI) Bakti Negara, Gde Agung yang juga Bupati Badung itu menyebutkan, untuk dapat melahirkan pesilat yang handal, dibutuhkan atlet yang memiliki kemampuan fisik dan mental yang tangguh.
Selain itu, pesilat juga harus memiliki ketangkasan gerak langkah dalam mematahkan lawan, sekaligus memiliki ketangguhan spiritual, yakni berbudi pekerti yang baik, jujur dan santun, katanya.
Sehubungan seni bela diri ini merupakan warisan nenek moyang, Gde Agung mengingatkan agar perguruan silat yang tersebar di beberapa daerah di Pulau Dewata dapat tetap ajeg atau selalu eksis di tengah-tengah kehidupan masyarakat.
"Kami sangat berharap perguruan yang ada di Bali dapat tetap ajeg. Untuk pekentingan ini, kami harapkan para pesilat mampu untuk terus saling asah asih asuh, dan saling menjaga persatuan dan kesatuan demi satu tujuan mulia yaitu melestarikan peninggalan nenek moyang," katanya.
Di samping itu, Gde Agung juga mengharapkan para pesilat yang ada di wilayahnya mampu terus meningkatkan kemampuan demi tercapainya prestasi yang menggembirakan.
Bersamaan dengan peringatan hari jadi tersebut, juga dilakukan acara "danurdara" atau ujian kenaikan tingkat bagi anggota PSPI Bakti Negara Kabupaten Badung.
Ketua DPC Bakti Negara Kabupaten Badung I Putu Sugiarta mengatakan, danurdara atau ujian kenaikan tingkat ini diambil dari bahasa Sansekerta pada uraian mitos Ramayana, di mana para putera Pandawa dan Kurawa ditempa ilmu kanuragannya oleh Begawan Durna.
Dari watak, sifat dan karakter manusia yang berbeda, sang guru ketika itu mengajar para muridnya tentang beladiri dan mental spiritual. "Tentunya, yang tekun, ulet dan jujurlah yang berhasil," ujar Sugiarta.
Adapun tujuan danurdara adalah sebagai ajang evaluasi mengenai sejauh mana kemampuan para murid dalam menyerap ilmu yang telah diberikan oleh pelatih, ucapnya.
PSPS Bakti Negara tercatat dicetuskan oleh para pendekar silat Bali di Banjar Kaliungu Kaja, Denpasar, 31 Januari 1955.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.