Twitter dan media sosial lainnya digunakan oleh para kandidat untuk meningkatkan jumlah pendukung mereka, mengumpulkan dana dan menggeser fokus debat publik untuk apa yang disebut 'pemilu sosial' pertama negara tersebut pada November mendatang.
Twitter memiliki potensi "untuk mempengaruhi narasi nasional"," kata Zach Green, pemimpin konsultan media 140Elect, yang menyarankan kandidat bagaimana cara menggunakan Twitter.
Karena Twitter mendemokrasikan penyampaian informasi, 'tweets" juga bisa membantu kandidat menyampaikan pesan yang mungkin tidak terlihat di media tradisional seperti koran dan televisi.
"Twitter adalah cara menyuntikkan pesan ke percakapan nasional karena setiap orang menuliskan kisah yang bisa anda dapatkan di luar sana," kata Green kepada AFP.
"Anda juga bisa berkeliling mengikuti diskusi nasional karena Twitter memperbolehkan kandidat untuk mencapai konstituen mereka tanpa pengawal."
Tony Fratto, mantan juru bicara Gedung Putih dan Departemen Keuangan pada masa George W. Bush yang sekarang menjadi mitra di perusahaan konsultan Hamilton Place Strategies, mengatakan Twitter bisa menjadi pengubah permainan.
"Twitter membuat semua menjadi mungkin bagi tim kampanye untuk segera berkomunikasi dengan pemilih potensial dalam jumlah besar dan dengan cara termurah yang pernah anda bayangkan," kata Fratto.(*/T007)
: Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.