Denpasar (Antara Bali) - Pembalap Iran dari Tabriz Petrochemical Team, Mehdi Sohrabi, yang menyabet semua gelar bergengsi dalam Speedy Tour d'Indonesie 2009, mengandalkan strategi utama pada tanjakan ketimbang di jalan datar dan menurun.

"Alasannya sederhana saja, jarang ada pembalap yang memiliki stamina prima di tanjakan. Kecepatan pasti tertolong di jalan menurun dan di situ bisa dihemat tenaga," katanya kepada ANTARA, seusai menerima empat penghargaan di turnamen bergengsi dari PB ISSI dan PT Telkomsel itu, di Denpasar, Kamis malam.

Turnamen tahunan itu menjadi kalender puncak PB ISSI, yang diikuti 95 pembalap dari dalam negeri dan mancanegara. Namun hanya 76 pembalap yang bisa menyelesaikan balapan hingga garis finis di Kota Denpasar setelah dilepas pada 22 November lalu di Jakarta.

Sohrabi dalam turnamen yang berlangsung sejak 22 November hingga hari ini dengan rute Jakarta-Denpasar dalam 12 etape mampu memeragakan teknis balap dan bersepeda yang canggih. 

Atas capaiannya itu, dia meraih tiga jaket bergengsi, yaitu Jaket Kuning sebagai pembalap tercepat, Jaket Tutul Merah (Polka Dot) sebagai "raja tanjakan", dan Jaket Hijau.

Namun, dalam nomor tambahan "criterium" di Kawasan Renon, Denpasar, yang menempuh jarak 56 kilometer di jalan datar, dia tidak meraih posisi utama. Posisi itu diraih rekan satu negaranya, Abbas Saeidtanha, dari tim berbeda.

Pembalap kelahiran 12 Oktober 1981 itu sendiri, yang selama mengayuh pedal sepeda di nomor "criterium" itu mengenakan Jaket Tutul Merah, hanya bisa menempatkan diri di posisi keempat.

Sohrabi menyatakan, "Saya sangat senang bisa ikut dalam turnamen di Indonesia ini. Jalur yang disiapkan panitia menantang namun pemandangannya indah juga untuk dinikmati."

Pembalap sepeda terbaik Asia itu mengaku berasal dari kampung halaman di ketinggian, Zanjan, Iran, sehingga telah terbiasa dengan tanjakan dan tikungan. "Itu lumrah di kampung saya dan saya suka bersepeda," kata pembalap yang hanya bisa berbahasa Parsi itu.

Menurut dia, etape terberat adalah etape dari Kota Yogyakarta ke Purwokerto, yang penuh dengan tikungan yang belum pernah dia lalui. Namun berbekal pengalaman, akhirnya dia tahu bagaimana cara menundukkan tanjakan yang berkombinasi dengan turunan tajam.

Kecepatan saat menempuh jalan menurun dalam turnamen ini, menurut data panitia penyelenggara, bisa mencapai 120 kilometer perjam, sedangkan pada saat menanjak di tanjakan curam, hanya sekitar 25 kilometer perjam.(*)


: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026