Denpasar (Antara Bali) - Realisasi perdagangan aneka barang kerajinan bernilai seni buatan masyarakat Bali dan mata dagangan nonmigas lainnya ke Jepang tetap stabil dalam kondisi krisis ekonomi global yang melanda sejumlah negara maju ini.

Perdagangan luar negeri Bali ke Jepang bernilai antara 6-7 juta dolar AS per bulan, kata Kepala Subdinas perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, Ni Wayan Kusumawathi di Denpasar, Selasa.

"Ini artinya pengusaha kerajinan dan usaha industri kecil Bali mampu memenuhi selera konsumen negeri matahari terbit itu terhadap berbagai jenis mata dagangan dari berbagai jenis barang aksesori dengan kualitas dan harga yang diinginkan konsumen," kata dia.

Konsumen dari Jepang umumnya menginginkan barang-barang berkualitas dan bentuknya praktis supaya mudah dibawa dan diberikan kepada teman-temannya tentu dengan harga yang terjangkau, kata Kusumawathi.

Bolpoin yang dilapisi dengan emas yang dibuat eksklusif oleh perajin Bali laku keras di pasaran Jepang, begitu pula dompet, tas dan perabotan rumah tangga yang dibuat dengan anyaman bambu, daun lontar, pelepah pisah yang sudah dikeringkan juga banyak dipasarkan ke negeri Sakura.

Patung Budha dari kayu dan berbahan baku batu padas banyak dikapalkan ke Jepang guna memenuhi permintaan masyarakat setempat, begitu pula lukisan yang dianggap sakral menggambarkan suasana keagamaan cukup lancar ke Jepang sehingga tidak mengherankan ekspor ke sana stabil.

Kusumawathi mengatakan, perolehan devisa nonmigas Bali khusus dari Jepang selama Januari-Agustus 2009 tercatat bernilai 51,2 juta dolar AS, besaran hasil perdagangan itu menempati urutan kedua setelah Amerika Serikat yang membeli barang nonmigas Bali seharga 63,1 juta dolar dalam periode sama.

Impor Jepang tersebut memiliki peranan 16,5 persen dari seluruh ekspor Bali yang seluruhnya bernilai 310 juta dolar AS memiliki peranan 20 persen, kata Kusumawathi. (*)


Editor :

COPYRIGHT © ANTARA 2026