Setiap kecamatan di Kabupaten Karangasem mengirimkan delapan murid SD untuk mengikuti lomba yang digelar di Lapangan Candra Bhuana, Amlapura, Kamis.
"Anak-anak harus dikenalkan sejak dini tentang budaya Bali agar tidak dilupakan begitu saja saat mereka sudah besar nanti," kata Kepala Bagian Humas Pemkab Karangasem I Gede Waskita Sutadewa.
Ajang yang memperlombakan dua pasangan dalam setiap babak itu dinilai oleh dewan juri yang menguasai sastra Bali.
Pasangan yang kalah adalah mereka tidak mampu menebak kata yang dijelaskan oleh pasangan lawannya. "Napi ke bongkok, tanpa tenda, tanpa lima, rebuta ken dewa ne?" tantang peserta bernomor 1-A kepada pasangan lawan.
Pertanyaan yang berarti, apakah sesuatu yang bungkuk, tanpa tenda, tanpa tangan, dan jadi rebutan para dewa, itu tidak mampu dijawab lawannya.
Peserta nomor 1-A mengatakan bahwa jawaban atas pertanyaan itu adalah "kursi". Tidak hanya lawan, namun penonton pun terheran-heran atas pernyataan peserta tersebut. Menurut peserta nomor 1-A, "dewa ne" adalah dewan yang duduk di kursi legislatif.
Selain macecimpedan, para murid SD itu mengikuti lomba "masatwa" atau bercerita dan "makekawin" atau berkidung.(*/M038/T007)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.