"Berkesenian dengan bentuk yang khas kebhinekaan dan dibawakan oleh penyanyi yang dilatih khusus untuk kepentingan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), misalnya pada MTQ IV Papua Barat di Kaimana, sangat membanggakan," katanya dalam silaturahim dengan tokoh agama dan masyarakat Papua Barat di Kaimana, Jumat petang.
Ikut mendampingi Wamenag pada acara itu Gubernur Papua Barat Abraham Oktavianus Aturari, Kakanwil Kemenag Juliana Leong, anggota DPR dari Partai Demokrat asal Papua Barat Mikael Watimena.
Esensi berkesenian bagi umat, bukan hanya terbatas pada olah vokal dan menari, tapi juga lebih luas lagi yang dimaksudkan untuk memberikan dukungan menghaluskan rasa, kehalusan budi dan kebersamaan. Nabi Muhammad SAW pun orang yang gemar terhadap kesenian yang dibuktikan membela isterinya, Aisah, yang ditegur Abu Bakar ketika mendengarkan penyanyi di kediamannya, cerita Wamenag.
Dalam agama mana pun, katanya, ia yakin seni tak dapat dipisahkan untuk mengekspresikan kehalusan rasa dan kehalusan budi bagi seluruh umat.
Oleh karena itu, ia pun menyambut gembira bahwa di beberapa daerah, seperti di Papua Barat dan Ambon ada kelompok seni menyanyikan mars
MTQ dibawakan umat Nasrani dan sebaliknya ketika berlangsung paduan suara Pesparawi ada umat muslim memberikan sumbangannya.
Peristiwa ini tidak melanggar ayat yang ada di Al Quran dan kitab agama lainnya. Karena itu ketika orang Arab bertanya tentang pesta umat Islam, Nasaruddin Umar menjelaskan tidak menyebut MTQ sebagai pesta umat muslim. Tapi justru MTQ merupakan pesta umat dan rakyat karena sumbangannya dan yang menikmati adalah rakyat setempat.(*/M038)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.