Prosesi upacara adat penyambutan tamu diawali dengan tampilnya dua perwakilan mereka di depan dua anak dara berpakaian khas, berpayung lebar dan bergagang panjang di depan dua barisan anak-anak sekolah dasar berseragam pramuka sepanjang kira-kira 100 meter.
Selanjutnya, sepasang perwakilan, dari sebanyak 50 tamu asal Jakarta pada acara Orom Sasadu (makan bersama di rumah adat) di Desa Gamlama, Jailolo, Halmahera Barat, Sabtu (24/3), dipersilakan duduk pada dua kursi kayu.
Kaki kanan dan kiri masing-masing tamu kehormatan disiram air kembang dengan menggunakan seuntai ikatan dedaunan di atas piring terisi bunga berwarna-warni sebelum didoakan oleh tetua adat, yakni seorang pria setengah baya berbaju batik dan berpeci.
Iringan rombongan tamu-tamu sambil berjalan kaki di jalan bebatuan berrumput dipagari barisan para siswa kemudian melanjutkan prosesi penyambutan Adat Joku Kaha dengan tari-tarian tradisional Sara Dabi-Dabi, Legu Salay, Musik Bambu, Tataruba, dan Yanger.
Tari-tarian dan nyanyian kelompok anak muda, ibu-ibu dan bapak-bapak yang diiringi alat musik tiup dan petik itu juga sebagian telah melibatkan alat musik modern seperti drum, gitar dan bas, selain seruling dengan ukuran bambu besar dan alat musik tiup dari kulit kerang serta siput.
Kepada dua perwakilan tamu "istimewa" itu kemudian diperkenalkan jenis-jenis kuliner khas Desa Wisata Gamlama seperti mengambil daging siput menggunakan lidi dan menyuapi perwakilan tamu. Cicip-mencicip makanan khas termasuk singkong rebus itu berakhir setelah suguhan minuman air nira (dari pohon enau bahan baku gula aren) disajikan menggunakan "gelas" bambu dengan bukunya sebagai bagian dasar.
Disaksikan sebanyak 500 anggota masyarakat desa itu serta desa-desa tetangga dan sebanyak 50 tamu undangan, tamu perwakilan selanjutnya dibimbing menyaksikan proses membakar nasi bambu yang metodenya persis dengan pembuatan lemang di wilayah Minangkabau, Sumatra Barat.
Perbedaannya adalah kalau di Bukit Tinggi menggunakan beras ketan, sedangkan di Halmahera menggunakan beras baru hasil panen karena acara makan bersama memang diselenggarakan sebagai pesta syukuran pascapanen.
Perbedaan lainnya, di Halmahera isi bagian dalam nasi bambu terbagi dua sisi, dipisahkan oleh lapisan daun pisang. Sedangkan proses pencampuran dengan santan serta pembakarannya persis sama.
Simbol Kerukunan
Ritual dilanjutkan dengan memasuki rumah adat Suku Sahu Sasadu atau Sabua yang ujung atapnya berjarak sekitar 1,5 meter dari permukaan tanah sehingga orang yang memasukinya harus membungkuk.
"Menundukkan kepala pada awal kedatangan itu sebagai simbol penghormatan", kata Kepala Dinas Pariwisata Halmahera Barat, Feny Kiat yang turut hadir di pesta itu.
Rumah adat berukuran sekitar 10 x 8 meter itu tidak menggunakan paku sehingga simpul-simpul penyatuan balok-balok penyangga dilakukan hanya melalui teknik pemahatan dan ikatan ijuk dan rotan.
Tidak menggunakan paku itu diisyaratkan tetua-tetua adat setempat sebagai simbol kerukunan antarsuku dan antaragama karena tidak ada unsur pemakuan yang diartikan sebagai "pemaksaan", antarsesama anggota masyarakat.
Makanan yang telah terhidang diatur ibu-ibu di rumah adat bermeja panjang dua lonjoran papan pada empat sisi itu siap disantap bersama. Namun ada aba-aba terakhir semacam penjelasan singkat sejarah makan bersama yang dulunya berlangsung sampai tujuh hari tujuh malam itu, dari tetua adat setempat.
Setelah pembacaan doa agar makanan dan minuman terhidang membawa berkah, maka santap siang pun dimulai. Tersedia antara lain nasi bambu (ea jala), papeda (dari bahan sagu), bali malat (kue), domo (makanan berbahan baku jamur), serta berbagai jenis olahan ikan serta menu berbahan baku sagu.
Alat tabuhan seperangkat gendang yang terletak di bagian tengah lantai Sasadu, kemudian ditabuh seusai acara makan bersama sebagai simbol kemeriahan dan kesenangan mendapat hidayah dari Tuhan Yang Maha Esa melalui rizki keberhasilan panen raya.
Pesta pun akhirnya berakhir setelah semua menikmatinya. Lama pesta tergantung kualitas hasil panen, tujuh hari tujuh malam ketika hasil panennya sangat memuaskan, tiga hari tiga malam ketika panennya hanya memuaskan dan bisa pula hanya satu hari satu malam ketika hasil panen dinilai hanya berkualifikasi sederhana.
Bambu Gila
Sementara sehari sebelumnya, Jumat (23/3) di pantai Disa, Desa Ropu Tengah Balu, Susupu, Halmahera Barat, berlangsung kegiatan hiburan "bambu gila", yang populer sebagai hiburan rakyat di seantero Maluku dan Maluku Utara.
Pada acara menyambut kunjungan 30 wartawan dari Jakarta itu, sekitar 700 anggota masyarakat sekitar menyaksikan kegiatan bambu gila yang melibatkan para bocah, anak-anak muda dan para orang tua.
Antara lima, enam, atau tujuh orang pemain mengapit bambu sepanjang kira-kira 4 meter dengan kedua lengan tangan masing-masing, dan selanjutnya kedua ujung bambu dikipas-kipas dengan asap oleh sang pawang melalui pembakaran rumpun akar-akaran sambil berkomat-kamit membacakan mantera.
Kekuatan tak terduga spontan dipercaya masuk ke bambu itu sehingga seluruh pemain perlu melawan kekuatan "gaib" itu untuk meredam goncangan tak terarah, ke seluruh penjuru.
Menahan tenaga goncangan itu oleh para pemain sebagai gerakan fisik yang menghibur karena semakin ditahan goncangan yang dianggap magis itu semakin kuat sehingga tantangannya semakin berat.
Langkah kaki yang terseok-seok menahan gerakan "setan" itu di atas pasir dan raut wajah pemain yang tertekan emosi dan menahan goncangan membuat para penonton terhibur menyaksikan para pemain yang sebagian akhirnya terjatuh.
Kelelahan setelah mengikuti acara "gila-gilaan" itu, para peserta akhirnya terhibur bersama seluruh penonton yang datang dari desa tetangga menyaksikan ritual tradisional yang dulunya disebut sebagai permainan hiburan para nelayan di pantai sepulangnya dari melaut.
Berbagai kegiatan budaya tersebut diselenggarakan sebagai pemanasan atas puncak event tahunan "Festival Teluk Jailolo", akhir Mei 2012 yang tahun ini berlangsung ke-4 kali dan meliputi acara budaya, kuliner, snorkling, menyelam (diving) serta pameran berbagai hasil kreativitas rakyat dari sebanyak sembilan kecamatan di Kabupaten Halmahera Barat.(*/T007)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.