Oleh I Komang Suparta

Denpasar (Antara Bali) - Kesuksesan Bali menjadi tuan rumah berbagai kegiatan konferensi yang berskala nasional dan internasional di tahun 2011 menjadikan Pulau Dewata sangat berpeluang menggarap wisata "meeting, incentive, convention, and exhibition" (MICE), karena itu perlu ditingkatkan sarana pendukungnya.

Terlebih menjelang kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (KTT APEC) yang akan digelar pertengahan November 2013 di kawasan Nusa Dua, Bali.

Namun langkah ini perlu dukungan semua pihak, terutama pemerintah, masyarakat serta penyelenggara MICE di Pulau Dewata.

Ketua Indonesia Congres and Convention Association (INCCA) Bali Ida Bagus Surakusuma belum lama ini mengatakan, potensi kegiatan MICE sangat memungkinkan karena dari segi fasilitas sangat mendukung. Namun demikian perlu kemasan yang lebih menarik lagi.

Ia mengatakan, selain wisata budaya, MICE selama ini juga menjadi sumber pendapatan bagi sektor pariwisata.

Hal tersebut, kata dia, seiring dengan banyaknya pergelaran konferensi, baik bertaraf nasional maupun internasional yang digelar di Bali.

Bali khususnya dan Indonesia umumnya di sektor MICE internasional sudah semakin dikenal. Dulu ketika saya bertanya saat ke luar negeri tentang Indonesia mereka tidak tahu, tapi mereka justru lebih mengenal Bali. Namun baru-baru ini saya ke Barcelona mencoba menanyakan apakah mereka mengenal Indonesia. Ternyata sudah banyak yang tahu, katanya.

Oleh karena itu pemerintah agar terus mempromosikan wisata MICE Indonesia. Bahkan sejumlah negara sudah memiliki agenda tetap untuk ke daerah tujuan wisata MICE.

"Selain melakukan konferensi dan pameran, para peserta bisa menikmati objek wisata budaya yang ada di Indonesia, khsusunya Bali," ucap Surakusuma yang akrab dipanggil Gus Lolec.

Ia mengatakan, untuk tahun 2012, sektor pariwisata kemungkinan akan menghadapi tantangan berat akibat krisis Eropa dan Amerika Serikat.

"Karena itu semua praktisi pariwisata dan pemerintah agar lebih awal mengantisipasi, sehingga krisis tersebut, khususnya pariwisata tak terpengaruh," ucap pria asal Desa Sanur, Kota Denpasar itu.

"Yang saya khawatirkan, terjadi 'cancelation' (penundaan) oleh turis ketika mereka sudah siap menggelar wisata MICE di Indonesia atau pun Bali," ujar Gus Lolec yang juga General Manager Pasifik World ini.

Ia berharap antisipasi krisis Eropa dan Amerika tetap dilakukan dengan menyasar pangsa pasar lain di luar kedua benoa tersebut.

Gus Lolec mengatakan, saat ini memang belum ada klien yang menunda perjalanan ke Bali, malah wisata MICE makin meningkat. Apalagi sejak adanya Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN beberapa waktu lalu.

"Saat ini terjadi peningkatan wisata MICE di Bali hingga 40 persen dibandingkan tahun lalu. Tidak saja di Bali, tetapi kini lokasi MICE sudah bisa mengarah ke destinasi lainnya di luar Bali seperti Jakarta dan daerah lain," katanya.

Sementara Ketua Aliansi Pariwisata Bali (APB) Gusti Kade Sutawa mengatakan, jika Bali memang fokus untuk menjadi tujuan wisata pertemuan, insentif, konvensi, dan pameran (MICE) yang harus dipersiapkan menyangkut fasilitas pendukungnya.

"Kita tidak bisa hanya berwacana saja, karena itu langkah pertama yang diperlukan adalah membangun fasilitas yang memadai," kata Kade Sutawa.

Ia mengatakan, walau saat ini sudah ada tempat konferensi berstandar internasional di kawasan Nusa Dua, tetapi dari kapasitas masih kurang.

Oleh karenanya, rencana pembangunan "Bali International Park" (BIP) sebagai kawasan wisata terpadu di kawasan Jimbaran, Kabupaten Badung yang menyediakan fasilitas untuk konferensi berkapasitas mencapai 10.000 orang patut didukung oleh semua komponen masyarakat di daerah ini.

"Kalau untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Indonesia, khususnya Bali kami dukung. Namun pembangunan fasilitas tersebut juga harus mengutamakan kelestarian lingkungan," katanya.

Terlebih perencanaan BIP tersebut, kata dia, dari luas lahan mencapai 250 hektare di antaranya 60 persen untuk kawasan hijau dan ruang publik. Selain di kawasan pariwisata terpadu tersebut dibangun 21 rumah kepala negara untuk menunjang kegiatan KTT APEC 2013 juga dibangun tugu perdamaian," katanya.

Ia mengatakan, pembangunan megaproyek ini memang masih terjadi polemik pro dan kontra. Tetapi Pemprov Bali, khususnya Pemkab Badung harus bersikap tegas untuk mendukung, kalau ingin meningkatkan sektor pariwisata.

"Terlebih pembangunan BIP itu untuk penunjang fasilitas kegiatan KTT APEC mendatang sudah mendapat dukungan dari pemerintah pusat melalui surat keputusan presiden (keppres), semestinya tidak ada alasan untuk menunda. Kalau memang ada persyaratan yang kurang, harus segera diselesaikan," katanya.

Menurut Sutawa yang juga Direktur PT Saron Hotel Management itu berharap kepada semua pihak terkait pembangunan BIP disikapi untuk keberlanjutan masa depan sektor pariwisata Bali. Karena persaingan pariwisata khususnya dengan negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia semakin ketat.

"Negara tersebut kini mengembangkan pariwisata MICE. Apabila kita bisa membangun "convention hall" seperti rencana di BIP, saya yakin bisa bersaing karena andalan sektor pariwisata adalah keindahan alam dan budaya," ujarnya.

Bahkan wisata MICE, kata dia, memiliki agenda terjadwal dalam setiap tahunnya. Selain mereka melakukan konferensi sudah dipastikan akan berwisata ke objek wisata di Pulau Dewata.

"Jadi imbasnya tidak saja di kawasan Bali Selatan, akan tetapi juga di seluruh Bali, karena di sela-sela berkonferensi mereka pasti dijadwalkan untuk berwisata," katanya.

Hal senada juga  diungkapkan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Kabupaten Badung I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya mendukung sepenuhnya pembangunan BIP di Jimbaran sebagai pendukung pariwisata dan fasilitas penunjang KTT APEC.

"Kami sepenuhnya mendukung pembangunan fasilitas BIP yang berlokasi di Bukit Jimbaran, karena fasilitas penunjang pariwisata terpadu itu juga sekaligus penunjang kegiatan KTT APEC 2013 mendatang," katanya.

Proyek prestisius tersebut, kata dia, sangat perlu dibangun di Bali, sebagai upaya mengimbangi sektor kepariwisataan negara tetangga yang selama ini terus gencar mempromosikan pariwisatanya.

"Ini proyek prestisius. Persaingan usaha wisata terkadang negatif. Dan, itu sering dialami Indonesia, Bali khususnya. Proyek BIP membawa angin segar optimisme persaingan usaha wisata Indonesia di dunia internasional," katanya.

Dikatakan, selama ini pariwisata di kawasan Asia selalu dimenangkan oleh negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Thailand.

"Hanya Pulau Dewata yang bisa menyaingi Malaysia, Singapura dan Thailand. Bali sudah terbukti dua kali memenangkan kategori 'The Best Destination' oleh dunia internasional," katanya.

             Optimistis wisman meningkat
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu optimistis kunjungan wisatawan asing hingga akhir 2011 mampu mencapai target sebesar 7,7 juta orang dan diharapkan pada tahun 2012 wisatawan ke Indonesia akan lebih banyak dari target tahun ini.

"Kami optimistis target kunjungan wisman tersebut tahun ini akan tercapai. Walau di Eropa saat ini terjadi krisis utang, sama sekali tidak berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan asing," katanya saat meninjau rencana pembangunan wisata marina di kawasan Pelabuhan Benoa, Denpasar, Rabu (30/11).

Ia mengatakan, untuk mencapai target tersebut harus kerja keras, optimistis, dan realistis.

"Kami mengintensifkan pemasaran pariwisata Indonesia ke negara-negara yang pertumbuhan ekonominya masih baik. Selain itu, kita harus mampu menyediakan produk-produk yang menarik seperti wisata kapal pesiar," katanya.

Menurut dia, selain wisata kapal pesiar juga wisata MICE adalah salah satu produk yang dapat diandalkan.

"Wisatawan yang menumpang kapal pesiar biasanya ingin mencari keramaian, menyaksikan seni budaya, dan pemandangan alam. Kita punya ketiganya. Termasuk juga tempat wisata MICE kita sudah siap seperti di kawasan Nusa Dua dan Jakarta," katanya.(I020/IGT)

    




Editor : Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026