Denpasar (Antara Bali) - Organisasi pengairan tradisional dalam bidang pertanian (subak) yang diwarisi secara turun temurun menjadi penyangga kebudayaan Bali, sekaligus  salah satu daya tarik wisatawan berkunjung ke daerah ini.

"Dalam aktivitas subak terdapat kegiatan kebudayaan seperti halnya yang terjadi di desa adat (desa pakraman)," kata Guru Besar Universitas Udayana Prof Dr Ir I Wayan Windia, MS di Denpasar, Sabtu.

Ia mengakui, subak yang dikenal abad ke-11 yang terus mengalami proses transformasi hingga dimanfaatkan untuk menopang pembangunan nasional dalam bidang pertanian.

Subak sebelumnya hanya berfungsi teknologis, yakni mendistribusikan air irigasi secara adil kepada petani yang terhimpun dalam wadah subak, untuk mengairi lahan garapan secara teratur.

Namun dalam perkembangan mengalami proses transformasi dengan melakukan aktivitas budaya. Hal itu tercermin dengan adanya tempat suci (pura) dalam setiap sistem subak.(**)




: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026