Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta, Jumat mengatakan data inflasi Amerika Serikat pada September 2018 yang tercermin dari indeks harga konsumen (CPI) lebih rendah dari estimasi para pelaku pasar.
"Data AS itu menahan laju mata uangnya terhadap sejumlah mata uang dunia, termasuk rupiah," katanya.
Ia mengemukakan CPI pada September 2018 hanya tumbuh 0,1 persen, lebih rendah dari estimasi sebesar 0,2 persen dan juga lebih rendah dari bulan sebelumnya.
"Data yang di bawah estimasi itu kemungkinan dapat menurunkan tingkat agresif the Fed untuk menaikkan suku bunganya," katanya.
Sementara, Analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada menambahkan penurunan imbal hasil obligasi Amerika Serikat menjadi salah satu faktor yang menopang rupiah.
"Aksi beli diharapkan kembali marak terhadap aset berdenominasi rupiah," katanya. (WDY)
Pewarta: Zubi MahrofiEditor : I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.