"Pada acara yang bertajuk 'Kultur Pesisir dan Warna Lokal Sastra Jembrana' itu akan menghadirkan narasumber Wayan Udiana yang akrab disapa Nanoq da Kansas," kata Putu Aryastawa, staf Bentara Budaya Bali, di Gianyar, Kamis.
Dia menjelaskan, Wayan Udiana akan mencoba mengulas mengenai proses kreatif, baik sebagai penulis puisi/cerpen, maupun penggiat teater dan musikalisasi puisi.
"Nanoq akan berupaya menuturkan bagaimana kehidupan sosial di Kota Jembrana, yang kemudian turut mewarnai keunikan ekspresi serta corak masyarakat setempat," ujarnya.
Jembrana merupakan kota yang terkenal lewat keunikan ragam kesenian akulturasi tertentu. Cerminan kekhasan itu menjadi nilai tersendiri, khususnya bagi sastrawan yang berasal dari kabupaten paling barat di Pulau Dewata itu.
Dengan latar sosial kota pesisir, masyarakat Jembrana cenderung sangat multikultur dan egaliter.
"Keterlibatan yang intens antara penulis dengan kultur sosial masyarakatnya memang sangat penting dalam upaya mencapai tulisan yang bernas, cerdas dan kritis," ujarnya.
Karya sastra yang dianggap baik, boleh jadi tidak hanya soal pencapaian estetika bahasa yang tinggi, tetapi tidak mampu memberikan nilai-nilai sosial tertentu di masyarakat.
"Bagaimana kiranya seorang penulis era kini menyikapi arus globalisasi yang tak terelakkan. Apakah akan melahirkan karya-karya dengan mengangkat nilai lokalitas secara intens atau justru sebaliknya," katanya.
Dia mengatakan, apakah kultur sosial tradisional yang lekat dalam masyarakat hanya akan menjadi "bumbu penyedap" bagi karya-karya sastra terkini atau mampu melampauinya.
Nanoq da Kansas, adalah penyair yang berasal dari Desa Moding, Candikusuma, Jembrana.
Puisi-puisi Nanoq dimuat di berbagai media lokal dan nasional, serta terangkum dalam beberapa antologi, di antaranya "Teh Ginseng", "Bunga Rampai Puisi Bali", "Ladang Angin", "Negeri Bayang-Bayang" dan "Ombak Sajak".
Nanoq pada 1988 mendirikan Teater Kene, lima tahun kemudian membentuk Bali Eksperimental Teater (BET) dan melakukan banyak pentas di banyak kota, termasuk Bentara Budaya Jakarta.
Pentas itu dilakuakn bekerja sama dengan aktivis teater dari Belanda, Swis dan Taiwan. Kerap kali memfasilitasi berbagai acara temu budaya seperi Rembug Apresiasi Jembrana Bali Barat (1991-1999), Pekan Apresiasi Jembrana, Kongres Cerpen Indonesia II (2002) serta berbagai lomba di bidang sastra dan teater.
Pada 1998 Nanoq memprakarsai penerbitan jurnal Kertas Budaya. Dari jurnal tersebut Nanoq kemudian mendirikan sebuah komunitas bernama Komunitas Kertas Budaya yang didedikasikannya sebagai rumah baca, rumah diskusi serta penerbit buku alternatif.
"Seperti dialog-dialog sebelumnya, kami berharap 'Sandyakala Sastra' yang keempat belas ini akan memberi kemungkinan yang lebih kaya terutama dalam proses kreatif penulisan karya sastra. Kami mengundang pelajar, mahasiswa, seniman dan budayawan untuk turut mendiskusikan hal-hal terkini terkait sastra di Bali," ujarnya berharap.(**)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.