Denpasar (Antara Bali) - Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali IGAK Sutayasa mengatakan, agama membentengi umat dari dampak negatif yang ditimbulkan oleh kemajuan informasi dan globalisasi.

Kakanwil Kemenag Sutayasa saat membuka Pendidikan dan Pelatihan Calon Diksa (Pendeta Hindu) dari "Maha Warga Bhujangga Waisnawa" salah satu klan di Bali, di Denpasar, Minggu, mengungkapkan akibat kemajuan iptek dan era globalisasi, terjadi pergeseran perilaku masyarakat yang mulai menjauh dari ajaran agama.

"Kami harapkan, dengan diklat ini akan mampu melahirkan pemimpin-pemimpin agama Hindu yang dapat membimbing umat dalam meningkatkan pengetahuan dan kemampuan keagamaan," ucapnya.

Umat, katanya, dapat lebih memahami, menghayati kemudian mengamalkan ajaran agama menjadi lebih baik dalam kehidupan sehari-hari.

"Jika sudah demikian, dari sanalah fungsi agama dapat membentengi masyarakat agar tidak mudah terpengaruh dampak negatif  dari kemajuan informasi dan globalisasi," katanya.

Di sisi lain, katanya, apa yang dilakukan oleh "Maha Warga Bhujangga Waisnawa" ini juga sejalan dengan program-program dari Kanwil  Kemenag Provinsi Bali yang pada prinsipnya menekankan peningkatan kualitas kehidupan, kerukunan, dan pendidikan keagamaan.

Sementara itu Ketua Umum Moncol Pusat Maha Warga Bhujangga Waisnawa dr Nyoman Sugitha mengatakan, diklat ini merupakan kegiatan lanjutan yang telah dilakukan secara bertahap sejak tahun 2007.

Sugitha mengungkapkan pendidikan kali ini khusus mengenai pendidikan calon "sulinggih" atau pendeta, sedangkan pelatihan pada periode sebelumnya merupakan pendidikan bagi para "pemangku" (pemimpin agama untuk tingkatan pura).

"Rencananya diklat akan berlangsung selama 3,5 bulan dengan 15 kali pertemuan," katanya.

Kegiatan serupa akan terus dilaksanakan hingga tahun 2015.

Bagi mereka yang telah menempuh diklat ini dan sungguh-sungguh ingin menjadi "sulinggih", mereka selanjutnya akan di-"dwijati atau diksa" (proses penyucian menjadi pendeta).

"Saat ini, dalam melayani umat, kami kekurangan sulinggih. Di Bali jumlahnya yang aktif ada 22 orang, sedangkan umat Hindu yang termasuk dalam klan kami sekitar 130 ribu orang," katanyanya.

Jumlah itu, katanya, belum termasuk warga Bhujangga Waisnawa yang tinggal di daerah perantauan.

Mereka banyak menetap di sejumlah provinsi antara lain Sumatera, Sulawesi Tenggara dan  Nusa Tenggara Barat.

"Warga kami yang tinggal di Lampung saja sudah sekitar seribu orang," ujarnya.

Dengan jumlah sebanyak itu, untuk memenuhi kebutuhan umat memerlukan adanya tambahan pemimpin upacara keagamaan.

Dengan tenaga ada yakni para "rsi"  (sebutan sulinggih pada klan Bhujangga Waisnawa) cukup  kewalahan melayani umat.

Kondisi demikian belum lagi ditambah melayani umat di luar klan dan memenuhi tugas dari pemerintah.

"Melalui diklat ini, kami ingin ke depan akan lahir rsi-rsi yang beretika dan bermoral luhur. Mereka dididik untuk memahami ajaran agama secara komprehensif dari sisi filsafat, perilaku, dan ritualnya," ucapnya.

Sugitha mengatakan, penting peranan pemimpin agama karena merupakan ujung tombak yang akan membantu mewujudkan masyarakat yang dapat memahami agama secara benar dan utuh.

"Masyarakat yang semakin cerdas dari sisi agama tentu akan menjadikan agama sebagai tuntunan hidup dan dapat menghindarkan diri dari perilaku negatif," katanya.    

Diklat kali ini diikuti 72 orang warga dari Bhujangga Waisnawa. Mereka berasal dari sembilan kabupaten/kota se-Bali.(*)




Editor : Nyoman Budhiana

COPYRIGHT © ANTARA 2026