"Seni-seni tradisi yang merupakan bagian integral dari sosio-kultural-religius masyarakat, kini semakin gamang," kata Kadek Suartaya di Denpasar, Jumat.
Ia mengatakan, kondisi yang demikian itu menimpa hampir sebagian besar kesenian daerah, bahkan seni-seni tradisi yang pernah menjadi primadona di era tahun 1970-an kini semakin tak mendapat perhatian.
"Arja dan drama gong misalnya, telah kehilangan pamor, pementasannya kian sulit dicari. Arena panggung pertunjukan di bale banjar pun semakin lengang dari pentas kedua teater itu," tutur Kadek Suartaya.
Ekspresi seni tradisi pada umumnya tampak kikuk berinteraksi dengan dinamika zaman. Masyarakat kekinian dimanjakan oleh beragam pilihan seni dan hiburan modern, salah satunya lewat presentasi televisi.
Komunalitas yang menjadi identitas masyarakat Bali dalam menghayati kehidupan lewat teks yang disajikan oleh kesenian tradisionalnya, ke depan, jika tidak segera dibenahi, agaknya akan merenggang.
Demikian pula muatan nilai-nilai keindahan yang disuguhkan seni tradisi tidak akan mampu lagi menularkan kebeningan nurani. Pesan-pesan moral yang diungkapkan seni tradisi tak kuasa lagi menerbitkan fajar budi masyarakat.
Oleh sebab itu keberadaaan seni tradisi hanya dipandang sebagai seonggok hidangan basi. Seni tradisi hanya sekali-sekali dilirik sebagai ekspresi budaya yang kusut masai," ujar Kadek Suartaya.
Untuk upaya penyelamatan dan aktualisasi terhadap bentuk-bentuk seni tradisi sudah sepatutnya diapresiasi, mengingat dalam seni tradisi tidak hanya merupakan kristalisasi estetik suatu rentangan zaman, namun juga sarat dengan makna kultural.
Kini, di tengah laju trasformasi budaya, keberadaan seni tradisi sebagai formulasi artistik kian redup dan sebagai pencatat makna budaya kurang dipedulikan.
Perubahan budaya sebagai imbas dinamika kehidupan, berkontribusi besar terhadap cara pandang, pola berpikir, sikap hidup masyarakat, termasuk pada sikap masyarakat Bali masa kini dalam berinteraksi dengan keseniannya, tutur Kadek Suartaya.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.