Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, Selasa mengatakan pergerakan mata uang rupiah terapresiasi terhadap dolar AS, namun cenderung masih terbatas di tengah antisipasi pasar terhadap pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada pekan ini.
"Faktor teknikal mempengaruhi pergerakan rupiah setelah sebelumnya mengalami tekanan. Menjelang FOMC, pergerakan rupiah masih dibayangi sentimen negatif," katanya.
Di sisi lain, lanjut dia, pergerakan rupiah juga relatif tertahan menyusul proyeksi pemerintah terhadap ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2018 tidak akan lebih tinggi dari pencapaian kuartal pertama 2017 lalu yang tercatat 5,01 persen.
"Hal itu disebabkan karena adanya pergeseran masa panen dari Maret ke April," paparnya.
Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih menambahkan proyeksi ekonomi itu terutama karena puncak panen raya mundur dari biasanya Maret ke April, ditambah pertumbuhan kredit yang masih lambat sebesar 7,4 persen (year on year) per Januari 2018.
Di sisi lain, lanjut dia, daya beli juga belum membaik. Perlambatan di sektor ritel bisa menjadi sumber perlambatan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. "Namun, kemungkinan rupiah masih dalam penjagaan Bank Indonesia di kisaran antara Rp13.750-Rp.13.775 per dolar AS," paparnya. (WDY)
Pewarta: Zubi MahrofiEditor : Edy M Yakub
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.