"Kami belum menerima laporan para pemandu wisata yang mengalami hambatan di objek pariwisata tersebut, pascabentrokan antarwarga yang menewaskan seorang warga dan puluhan mengalami luka-luka," kata Ketua DPD Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bali Made Sukadana di Denpasar, Kamis.
Ia berharap pascaperistiwa bentrokan warga tersebut tidak sampai mengganggu aktivitas pariwisata di Pulau Dewata.
"Mudah-mudahan tidak mengganggu kunjungan wisatawan, sebab perekonomian masyarakat Bali sangat tergantung pada sektor pariwisata," ucapnya.
Sukadana mengatakan, pihaknya sempat khawatir pascabentrokan warga tersebut akan mengganggu aktivitas wisatawan menuju objek wisata yang ada di wilayah Bangli.
"Kami sempat khawatir pascaperistiwa itu, karena wisatawan khususnya Eropa banyak mengunjungi objek-objek wisata di Bangli. Jika keadaan di wilayah itu gawat, tentu pramuwisata tidak akan berani mengantar tamu ke sana. Tetapi bagi tamu tidak bisa berasalan seperti itu. Kemana paket turnya harus diantar," ujarnya.
Kalau sampai pramuwisata tidak mengantar turis itu sesuai paket turnya, kata dia, pasti mengeluh dan meminta ganti rugi.
"Persoalan ini yang sempat kami khawatirkan, sebab sektor pariwisata adalah menjual jasa. Jika itu sampai tersebar maka akan mengancam citra pariwisata Pulau Bali," katanya.
Sebelumnya, hal senada dikatakan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali Ida Bagus Kade Subhiksu, bahwa peristiwa tersebut tidak sampai mempengaruh sektor pariwisata Pulau Dewata.
"Hingga saat ini belum ada pengaruh sektor pariwisata terkait bentrokan warga tersebut," katanya.
Ia mengatakan, walau kejadian tersebut lokasinya menuju objek wisata Pura Kehen, Desa Adat Penglipuran dan Penelokan Kintamani, namun sampai saat ini belum ada laporan dari agen perjalanan wisata yang menunda wisatawan untuk berkunjung ke Bali.
"Belum ada laporan dari travel yang menunda kunjungan wisatawan ke Pulau Dewata pascabentrokan warga itu," katanya.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.