Denpasar (Antara Bali) - Di tengah suasana yang hening dan tenteram saat umat Hindu khusuk melaksanakan ritual Hari Raya Galungan dan Kuningan memperingati kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (kejahatan), Pulau Dewata tiba-tiba berubah menjadi kancah bentrokan massal.
Bentrok antarwarga banjar atau dusun di wilayah Kabupaten Bangli sekitar 50 kilometer timurlaut Kota Denpasar itu, tidak bisa dihindarkan setelah kulkul (kentongan) sakral di Puri Agung Bangli yang hampir tidak pernah dibunyikan, secara mendadak pada Selasa (19/7) malam dipukul bertalu-talu sebagai tanda bahaya.
Tanda bahaya dibunyikan setelah kawasan Banjar Kawan di Kota Bangli diserbu ribuan warga dari sejumlah banjar di Desa Songan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.
Mendengar kentongan yang dikeramatkan dibunyikan, warga dari Banjar Kawan tumpah ruah ke luar rumah menuju jalanan dengan bersenjatakan pedang, golok, panah, pentungan kayu, potongan batu bata dan lain-lain.
Akibatnya, bentrok fisik antarwarga yang datang menyerang dengan yang diserang, tidak bisa dihindarkan hingga jatuhnya seorang korban tewas dan belasan lainnya luka-luka.
Peristiwa berdarah itu berawal dari kasus pengeroyokan yang dilakukan oleh sejumlah siswa dari Banjar Kawan terhadap empat siswa SMK 2 Bangli yang berasal dari Desa Songan.
Atas peristiwa yang dialami itu, keempat siswa yang menjadi korban penganiayaan kemudian melapor kepada pihak Polres Bangli.
Namun, ternyata warga Songan tidak cukup hanya dengan hanya melapor kepada polisi, melainkan dalam waktu yang tidak telalu lama massa dari desa di pinggir Danau Batur itu sudah berkumpul dan berniat melakukan penyerangan.
Dengan menumpang sejumlah truk dan mobil pribadi, ribuan warga Desa Songan, malam itu datang dengan membawa beberapa jenis senjata tajam ke Banjar Kawan.
Kedatangan mereka sempat dihadang oleh barisan polisi, namun warga berhasil menerobos hingga bentokan massal tidak bisa dihindarkan.
Jero Slamet (50), asal Desa Songan, tercatat menjadi korban tewas dalam peristiwa itu, dan belasan lainnya dari kedua belah pihak mengalami luka-luka hingga harus menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bangli dan RSUD Sanjiwani Gianyar.
Pihak Polres Bangli mencatat delapan korban luka-luka berasal dari Banjar Kawan, yakni Kadek Jun (23), AA Semara Putra (18), Komang Pangkur (24), Komang Nova (19), Alit Wijaya (25), Kadek Dede (24), Putu Krisna (15) dan Komang Sandi (25).
Sementara korban luka-luka dari Desa Songan antara lain tercatat Jero Lanang (40), Putu Mertawan (20), I Wayan Sentana (25), Jero Jendana (26) dan Jero Darsana (28), yang juga harus menjalani perawatan di rumah sakit.
"Peristiwa berdarah itu dikhawatirkan bisa mencoreng citra Pulau Dewata sebagai surga wisata, di mana masyarakatnya dikenal sebagai kaum yang toleran dan taat pada ajaran yang dianutnya," kata Ketua Program Studi Pemandu Wisata Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar Dr I Ketut Sumadi MPar.
Ia mengatakan bahwa peristiwa yang merenggut korban jiwa dan luka-luka itu sebenarnya tidak perlu terjadi, jika kedua belah pihak berkomunikasi dan berusaha menyelesaikan permasalahan yang muncul melalui musyawarah dengan niat yang damai.
Demikian pula para tokoh masyarakat dari kedua desa adat yang bersengketa, seharusnya bisa melihat bahwa perkelahian yang muncul sama sekali bukan urusan adat, melainkan antardua kelompok pemuda atau pelajar.
"Jadi, masalah itu sesungguhnya adalah bentuk kenakalan dari anak-anak muda yang tidak harus melibatkan warga adat dengan melakukan penyerangan, yang kemudian disikapi dengan memukul kentongan yang disakralkan oleh pihak yang terserang," katanya.
Kelakuan generasi muda yang melanggar hukum dan norma yang berlaku itu, lanjut dia, sesungguhnya timbul setelah mereka "lepas kontrol".
"Mengantisipasi kondisi yang demikian agar jangan sampai terulang kembali di masa-masa mendatang, perlu keterlibatan dan peranserta semua pihak," ujar Sumadi.
Menurut dia, jika perkelahian antarbanjar atau kelompok di Bali tetap terjadi hingga kemudian terdengar ke telinga calon wisatawan, secara tidak langsung akan berdampak negatif terhadap pariwisata Bali, meskipun kasus-kasus adat yang muncul itu tidak punya kaitan dengan dunia pariwisata.
Oleh sebab itu, kata Sumadi, masyarakat dan semua pihak harus mampu mengendalikan diri yang dikenal dengan "sad ripu", yakni enam musuh yang ada dalam diri sendiri. Keenam musuh itu meliputi kama (nafsu), loba (rakus), moha (bingung), moda (mabuk), keroda (marah) dan matsarya (iri hati)
Bentrokan massal yang melibatkan warga masyarakat Songan dan Banjar Kawan, tampaknya didominasi nafsu dan amarah dalam waktu bersamaan yang tidak berhasil dikendalikan.
Melihat itu, semua pihak dapat belajar dari peristiwa berdarah tersebut hingga pada akhirnya tidak sampai terulang kembali di masa-masa mendatang, ujarnya menandaskan.
Mencekam
Pascabentrokan yang merenggut seorang korban jiwa dan belasan lainnya luka-luka itu, suasana Kota Bangli hingga Kamis siang masih mencekam. Sebagain besar toko tutup serta siswa dari seluruh jenjang pendidikan dan pegawai negeri sipil (PNS) dipulangkan lebih awal.
Kondisi arus lalu lintas tampak sepi di mana-mana, sehingga suasana cukup menegangkan, sementara Polres Bangli dengan didukung Polda Bali siap siaga melakukan upaya antisipasi, agar tidak kembali muncul hal-hal yang diinginkan.
Bupati Bangli I Made Gianyar bersama muspida setempat dilaporkan telah menuju Desa Songan untuk menemui warga setempat guna memberikan arahan dan kejelasan terhadap peristiwa berdarah tersebut.
Gubernur Bali Made Mangku Pastika menyampaikan rasa prihatinnya terhadap peristiwa yang telah merenggut korban jiwa dan belasan lainnya luka-luka itu.
Gubernur mengingatkan agar aparat desa, tokoh adat dan pejabat kabupaten dapat melakukan introspeksi diri terhadap munculnya kasus bentrokan yang sebenarnya sangat bisa dihindari.
Dikatakan, jika kedua belah pihak mampu mengendalikan diri dengan menyelesaikan masalah melalui jalur musyawarah, kecil kemungkinan peristiwa berdarah itu bisa timbul di Bangli.
"Saya harapkan tokoh-tokoh masyarakat dan aparat desa, pejabat dan kaum pendidik, mampu meredam peristiwa semacam itu agar tidak terulang kembaki di masa mendatang," ujar Gubernur Pastika, geram.
Ia menilai bentrokan berdarah tersebut sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai lokal masyarakat Bali, di mana Pulau Dewata selama ini menjadi model bagi kerukunan dan toleransi antarumat baik di tingkat nasional maupun internasional.
Masyarakat Bali yang selama ini dikenal memiliki konsep "menyama braya" (semangat persaudaraan) yang kental, hidup rukun dan harmonis berdampingan satu sama lainnya, kata Pastika, menjadi tercoreng akibat peristiwa bentrok massal antarwarga Desa Songan dengan Banjar Kawan tersebut.
Oleh sebab itu, kata dia, semua pihak perlu lebih menekankan nilai-nilai lokal dalam memantapkan rasa aman dan nyaman, sekaligus menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali IB Kade Subhiksu mengatakan, peristiwa bentrok massal tersebut hingga saat ini belum ada pengaruh terhadap pariwisata Pulau Dewata.
Meskipun peristiwa tersebut lokasinya menuju objek wisata Pura Kehen dan Penelokan Kintamani, namun belum ada laporan dari biro perjalanan wisata yang menunda atau membatalkan kunjungannya ke daerah itu, katanya.
Kendati demikian, lanjut dia, mudahan-mudahan hal itu tidak berpengaruh signifikan terhadap kunjungan wisman ke Bali.
"Kami berharap masalah itu dapat diselesaikan melalui jalur musyawarah yang damai, sehingga pada gilirannya tidak mengganggu dunia pariwisata yang selama ini menjadi andalan bagi perekonomian masyarakat Bali," ujar Kade Subhiksu. (*)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.